Wijaya Karya (WIKA) Bidik Kontrak Baru Rp65 Triliun pada 2020

Wijaya Karya membidik total kontrak baru Rp65 triliun pada 2020. Apa strategi yang disiapkan BUMN karya itu untuk mencapai target tersebut?
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  13:13 WIB
Wijaya Karya (WIKA) Bidik Kontrak Baru Rp65 Triliun pada 2020
Presiden Direktur PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Tumiyana (kanan) memberikan paparan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Rabu (17/10/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. membidik kontrak baru sekitar Rp65 triliun pada 2020. Nilai ini lebih tinggi dari target tahun lalu yang senilai Rp61,74 triliun.

Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana mengatakan proyeksi kontrak baru tahun ini lebih tinggi karena 2019 merupakan tahun yang berat bagi perusahaan konstruksi. Beberapa proyek ditunda dengan melihat kondisi politik dan baru diteruskan pada 2020.

“[Target] 2020 new contract Rp65 triliun, lebih tinggi karena 2019 kan tahun berat. Kami proyeksikan nilai itu karena banyak carry over juga,” ujarnya, Senin (13/1/2020) malam.

Tumiyana menyebutkan karena gelaran pemilihan presiden yang mempengaruhi proses tender proyek, kontrak baru yang didapatkan emiten dengan kode saham WIKA ini hanya tercapai Rp42,1 triliun atau 68,19% dari target perseroan.

Kendati tidak tercapai target yang ditetapkan, dia menilai realisasi tersebut cukup baik di tengah kondisi perlambatan sektor konstruksi sepanjang tahun lalu. Proyek terakhir yang digenggam perseroan pada 2019 disebutkan berupa pembangunan smelter PT Timah di Bangka dengan nilai sekitar Rp770 miliar.

Lebih jauh, dari target nilai kontrak baru 2020, WIKA membidik 14% berasal dari proyek luar negeri. Sebelumnya, Direktur Operasi III Wijaya Karya Destiawan Soewardjono mengatakan saat ini perseroan telah berada di 9 negara dan 2020 akan diperluas ke 3 negara lain, yaitu Madagaskar, Mauritius, dan Ethiopia.

Untuk pengembangan bisnis di tiga negara tersebut WIKA menggandeng badan usaha milik negara lain. Perseroan bekerja sama dengan PT Inka (Persero) untuk di Madagaskar dan PT Angkasa Pura II (Persero) untuk Mauritius. Sementara untuk proyek di Ethiopia, perseroan bekerja sama dengan anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, yaitu PT GMF AeroAsia Tbk.

Destiawan menambahkan pihaknya juga melihat negara-negara lain yang memiliki potensi dengan mempertimbangkan kemampuan pendanaan perseroan. Kontrak baru luar negeri WIKA pada 2020 diperkirakan mayoritas berasal dari negara-negara Afrika.

WIKA juga menggarap proyek di beberapa negara Asia yang memiliki pertumbuhan ekonomi baik dan sedang agresif membangun infrastruktur, seperti Filipina dan Taiwan. Perseroan juga sedang membidik proyek pengembangan bandara Terminal 3 di Taipe dengan nilai kurang lebih Rp3 triliun.

Adapun, pada Senin (13/1/2020) WIKA bersama PT Angkasa Pura I (Persero) dan Incheon International Airport Corporation (IIAC) menandatangani kerja sama pembentukan konsorsium untuk mengikuti tender pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam. Dalam konsorsium ini WIKA memiliki porsi saham 19%, AP I sebesar 51%, dan sisanya dimiliki oleh IIAC.

Apabila ketiganya memenangkan tender proyek, WIKA bakal mendapat potensi berulang dari pengelolaan bandara tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wijaya karya, bumn

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top