IHSG Ditutup Naik Tipis, UNVR dan MEGA Penekan Utama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu banyak berkutik pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (10/1/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  16:49 WIB
IHSG Ditutup Naik Tipis, UNVR dan MEGA Penekan Utama
Siluet karyawan di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu banyak berkutik pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (10/1/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG ditutup di level 6.274,94 dengan kenaikan hanya 0,01 persen atau 0,45 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (9/1/2020), IHSG mampu menutup pergerakannya di level 6.274,49 dengan penguatan 0,78 persen atau 48,81 poin.

Sebelum berakhir cenderung flat, indeks sempat melanjutkan penguatannya hingga mendekati level 6.300 setelah dibuka naik 0,20 persen atau 12,67 poin di posisi 6.287,17 pada Jumat (10/1) pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.271,98 – 6.295,37.

Lima dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin tambang (+1,54 persen) dan perdagangan (+0,54 persen). Empat sektor lainnya berakhir di wilayah negatif, dipimpin industri dasar (-0,70 persen).

Adapun dari 673 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 197 saham menguat, 188 saham melemah, dan 288 saham stagnan.

Saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing naik 4,34 persen dan 0,51 persen menjadi pendorong utama IHSG.

Sebaliknya, pelemahan saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dan PT Bank Mega Tbk. (MEGA) masing-masing sebesar 1,20 persen dan 8,33 persen menjadi penekan utama sekaligus menahan kenaikan IHSG.

Sementara itu, nilai tukar rupiah lanjut ditutup menguat 82 poin atau 0,59 persen di level Rp13.772 per dolar AS, setelah terapresiasi 46 poin dan berakhir di posisi 13.854 pada Kamis (9/1).

Indeks saham lain di Asia mayoritas menguat, di antaranya indeks Hang Seng Hong Kong (+0,27 persen) dan Kospi Korea Selatan (+0,91 persen).

Indeks Nikkei 225 Jepang pun lanjut naik 0,47 persen setelah berakhir melonjak 2,31 persen pada Kamis (9/1). Adapun indeks Topix ditutup naik 0,35 persen pada Jumat (10/1).

Meski demikian, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing ditutup turun tipis 0,08 persen dan 0,03 persen.

Dilansir dari Bloomberg, bursa Asia menguat bersama pasar saham global pada umumnya menjelang rilis laporan pekerjaan di Amerika Serikat.

Tanda-tanda bahwa AS dan Iran telah mundur dari jurang perang membantu menghidupkan kembali minat investor terhadap aset-aset berisiko sejak pertengahan pekan ini.

Sementara itu, terkait perdagangan AS-China, kementerian perdagangan China mengonfirmasikan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He akan menandatangani kesepakatan fase pertama di Washington pekan depan.

Investor juga menerima jaminan dari Wakil Ketua Federal Reserve Richard Clarida bahwa ekonomi AS tetap berkondisi baik dan bank sentral AS ini tidak akan mengubah arah kebijakannya.

"Jika pertumbuhan pulih dan bahkan jika inflasi sedikit melampaui, The Fed mungkin akan membiarkannya berjalan, dan itu mungkin berlaku untuk bank sentral lain,” ujar Patrik Schowitz, ahli strategi global di JPMorgan Asset Management kepada Bloomberg Television.

“Tapi jika pertumbuhan melemah mereka bisa melakukan pemangkasan [suku bunga] lagi, Anda sekalian memiliki pengaturan asimetris dan itu cukup membantu untuk pasar,” tambahnya.

Sebelumnya, pasar global telah diguncang oleh kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pascakematian Mayor Jenderal Iran Qasem Soleimani akibat serangan AS di Irak pada 3 Januari.

Kematian Soleimani menarik amarah Iran yang kemudian melancarkan serangan balasan terhadap dua pangkalan militer AS di Irak pada 8 Januari.

Memulihnya sentimen geopolitik memungkinkan para pedagang untuk mengalihkan fokus mereka ke petunjuk selanjutnya tentang kesehatan ekonomi AS, dengan rilis laporan pekerjaan pada Jumat (10/) waktu setempat.

Laporan pekerjaan final AS untuk 2019 diperkirakan akan menunjukkan pertambahan pekerjaan sebanyak 160.000 pada Desember.

“Investor tampaknya yakin bahwa masalah di Timur Tengah tampaknya telah diselesaikan, setidaknya untuk saat ini,” ujar Michael Hewson, kepala analis pasar di CMC Markets.

"Investor kini memiliki kesempatan untuk fokus pada penandatanganan kesepakatan perdagangan fase pertama AS-China pekan depan, serta kesehatan ekonomi AS hari ini, dan khususnya pasar tenaga kerja yang terus terlihat tangguh," tambahnya.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

UNTR  

+4,34

TLKM

+0,51

ADRO

+3,68

GGRM

+1,57

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

UNVR

-1,20

MEGA

-8,33

ASII

-0,73

EMTK

-5,80

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Bursa Asia

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top