Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Isu Perang Dunia Mencuat, IHSG Justru Bangkit Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mematahkan pelemahannya dan berakhir di zona hijau pada perdagangan hari ini, Jumat (3/1/2020), di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta/ ANTARA - Hafidz Mubarak A
Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta/ ANTARA - Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mematahkan pelemahannya dan berakhir di zona hijau pada perdagangan hari ini, Jumat (3/1/2020), di tengah meningkatnya tensi geopolitik.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG ditutup di level 6.323,47 dengan penguatan 0,63 persen atau 39,88 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (2/1/2020), perdagangan pertama pascalibur Tahun Baru,  IHSG menutup pergerakannya di level 6.283,58 dengan pelemahan 0,25 persen atau 15,96 poin, koreksi hari kedua berturut-turut sejak 30 Desember 2019.

Indeks mulai rebound dari pelemahannya ketika dibuka naik 0,36 persen atau 22,61 poin di posisi 6.306,19 pada Jumat (3/1) pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.287,71 – 6.323,47.

Delapan dari sembilan sektor berakhir di zona hijau, dipimpin industri dasar (+1,31 persen) dan infrastruktur (+1,23 persen). Satu-satunya sektor yang ditutup di zona merah adalah perdagangan (-0,53 persen).

Adapun dari 671 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 204 saham menguat, 186 saham melemah, dan 281 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing naik 1,64 persen dan 1,79 persen menjadi pendorong utama IHSG.

Sebaliknya, indeks saham lainnya di Asia mayoritas berakhir negatif, di antaranya indeks Hang Seng Hong Kong yang terkoreksi 0,32 persen, serta Shanghai Composite dan CSI 300 China yang masing-masing turun 0,05 persen dan 0,18 persen.

Bursa Asia secara keseluruhan melemah sementara aset safe haven, seperti emas dan yen Jepang, melonjak setelah serangan udara Amerika Serikat di Irak menewaskan seorang jenderal Iran.

Jenderal Qasem Soleimani, komandan pasukan elit Quds Iran, dilaporkan tewas dalam serangan pasukan Amerika Serikat di Irak pada Jumat (3/1/2020) waktu setempat.

Pentagon mengonfirmasi bahwa Soleimani dibunuh atas arahan Presiden Donald Trump. Pernyataan tersebut keluar setelah muncul laporan adanya serangan di Bandara Internasional Baghdad yang disebut telah menewaskan sejumlah orang.

Dalam sebuah pernyataan setelah kematian Soleimani, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan akan tibanya balas dendam untuk "penjahat" yang telah membunuhnya.

Khamenei menegaskan bahwa kematian Soleimani, meskipun pahit, akan menggandakan motivasi perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.

“Investor khawatir bahwa situasi di Iran akan memburuk, karena mungkin akan ada pembalasan pascaserangan AS,” ujar Steven Leung, direktur eksekutif di UOB Kay Hian (Hong Kong) Ltd.

“Pelaku pasar akan berkeinginan mengurangi risiko menjelang akhir pekan. Pasar saham telah banyak mengalami rally dalam sebulan terakhir ini, jadi berita buruk apa pun menjadi alasan untuk mengambil untung,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengutuk pembunuhan Soleimani dan komandan milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, oleh AS. Menurut Mahdi, peristiwa ini akan "menyalakan sumbu" perang.

“Serangan udara AS adalah eskalasi berbahaya yang akan menyalakan sumbu perang destruktif di Irak, kawasan, dan dunia,” tutur Mahdi dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Reuters.

Di pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,27 persen di level Rp13.930 per dolar AS, di tengah pelemahan sebagian besar mata uang emerging market pascaserangan udara itu.

“Kurs mata uang Asia menghadapi tekanan yang meningkat setelah serangan udara di Irak karena telah menyebabkan daya tarik aset berisiko memburuk,” ujar Mitul Kotecha, pakar strategi senior emerging market di TD Securities, Singapura.

“Meski tidak ada implikasi langsung untuk Asia, intensifikasi ketegangan geopolitik apa pun dan akibatnya atas penghindaran aset berisiko kemungkinan akan menahan mata uang Asia,” tambahnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper