Emisi Global Bond US$225 Juta, SRIL: Untuk Refinancing dan Modal Kerja

Penerbitan surat utang global itu telah dilakukan pada Rabu (16/10/2019).
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 18 Oktober 2019  |  11:34 WIB
Emisi Global Bond US$225 Juta, SRIL: Untuk Refinancing dan Modal Kerja
Pejalan kaki berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Sri Rejeki Isman Tbk. telah melakukan penerbitan surat utang senior dengan nilai total sebesar US$225 juta pada Rabu (16/10/2019).

Adapun dana dari hasil penerbitan global bond itu digunakan untuk refinancing dan modal kerja.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Bisnis pada Jumat (18/10), manajemen perseroan menyebutkan penerbitan surat utang senior dalam jumlah keseluruhan sebesar US$225 juta atau setara Rp3,19 triliun [kurs RpRp14.182].

Tingkat bunganya ditetapkan sebesar 7,25 persen per tahun dan jatuh tempo pada 2025. Bunga akan dibayarkan setiap 6 bulan yang akan dimulai pada 16 Juli 2020.

Surat utang tersebut ditawarkan kepada investor di luar wilayah Indonesia dengan tunduk pada Rule 144 dan Regulation S berdasarkan United States Securities Act 1933 (sebagaimana diubah) sebagai bagian dalam program restrukturisasi utang perseroan.

Surat utang tersebut dijamin dengan tanpa syarat dan tanpa ditarik kembali oleh PT Sinar Pantja Djaja (SPD), PT Primayudha Mandirijaya (PM), dan PT Bitratex Industries (BI). Ketiganya merupakan anak usaha emiten garmen tersebut.

"Penerbitan surat utang ini akan berpengaruh pada kondisi keuangan perseroan yakni memperpanjang utang jatuh tempo perseroan," terang manajemen perseroan dalam keterbukaan informasi. 

Hasil bersih dari transaksi itu sekitar US$219,8 juta, setelah dikurangi biaya dan komisi underwriting. SRIL akan menggunakan hasil bersih untuk melunasi surat utang senior yang diterbitkan oleh Golden Legacy Pte. Ltd. dengan bunga 8,25 persen dan jatuh tempo pada 2021.

Adapun jumlah pokok terutang per 30 Juni 2019 sebesar US$174,52 juta. Sementara itu, US$45,28 juta lainnya digunakan untuk modal kerja dan keperluan perseroan secara umum.

"Pelunasan surat utang 2021 akan membuat likuiditas perseroan menjadi lebih fleksibel. Selain itu, sisa dana yang diperoleh dari surat utang juga akan digunakan untuk modal kerja dan keperluan perseroan secara umum yang nantinya akan meningkatkan likuiditas dan keuntungan perseroan," terang manajemen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, sri rejeki isman

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top