Emisi Surat Utang Korporasi Diproyeksi Hingga Rp170 Triliun pada 2020

Nilai surat utang korporasi yang akan jatuh tempo pada 2020 sebesar Rp100 triliun.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  19:41 WIB
Emisi Surat Utang Korporasi Diproyeksi Hingga Rp170 Triliun pada 2020
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA--Penggalangan dana korporasi melalui penerbitan surat utang diperkirakan bakal menyentuh Rp155 triliun hingga Rp170 triliun pada 2020.

Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Wahyu Trenggono memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi juga akan seret pada tahun depan karena belum bisa mengulang angka penerbitan tertinggi seperti pada 2017.

Hal itu mengacu pada realisasi pada 2015 yakni setahun setelah pesta demokrasi. Pada saat itu, penerbitan obligasi korporasi melampaui nilai surat utang yang jatuh tempo tetapi belum terakselerasi.

Pada tahun depan, secara umum, kondisinya akan sama meskipun pada 2015 kondisi global lebih optimistis. Oleh karena itu, dengan nilai surat utang yang akan jatuh tempo sebesar Rp100 triliun, dia memperkirakan penerbitan surat utang baru akan berada di kisaran Rp155 triliun hingga Rp170 triliun, yakni naik 75% dari nilai surat utang jatuh tempo.

Dengan kondisi ekonomi yang melambat, dia memperkirakan bank sentral di berbagai negara masih akan menempuh pelonggaran moneter. Seperti diketahui, pada Agustus 2019 kurva yield US Treasury menunjukkan pola terbalik yang menggambarkan potensi krisis sehingga bank sentral akan berupaya untuk membuat dana semakin murah yang menggerakkan pertumbuhan.

“Pada 2015 ekonomi tidak segalau saat ini, ekonomi China stabil. Pada 2019 ekonomi Amerika Serikat, China, Eropa enggak seoptimistis 2015. [Kemungkinan] ada peningkatan sekitar 75% [dari nilai surat utang jatuh tempo]. Range penerbitan obligasi korporasi Rp155 triliun sampai Rp170 triliun,” ujarnya di Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Nilai Jatuh Tempo

Penerbitan obligasi korporasi akan menyentuh Rp120 triliun hingga Rp130 triliun pada akhir tahun. Pasalnya, target tersebut mempertimbangkan beberapa hal seperti nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo pada tahun ini sebesar Rp90,28 triliun.

Kemudian, bila mengacu pada realisasi penerbitan surat utang korporasi hingga Oktober 2019, nilainya telah menyentuh Rp94,05 triliun dan masih tersisa Rp15 triliun dalam pipeline yang akan terbit dalam waktu dekat. Dia berujar bila dibandingkan dengan 2018, penerbitan di tahun ini akan cenderung melambat karena 2019 bersamaan dengan penyelenggaraan politik.

Lebih lanjut, dia menjelaskan tentang tren yang terjadi pada 2014 ketika pesta demokrasi diselenggarakan, penerbitan surat utang tak jauh berbeda dari nilai obligasi yang jatuh tempo. Pada 2014, realisasi penerbitan surat utang korporasi menyentuh Rp47 triliun dan surat utang yang jatuh tempo pada periode yang sama berada di level Rp42 triliun.

Sementara itu, di periode lain seperti pada 2016 hingga 2017, penerbitan surat utang cenderung lebih masif karena faktor ketidakpastian lebih rendah. Penerbitan pada 2016 hingga 2017 selalu dua kali lebih tinggi dari nilai surat utang yang jatuh tempo.

Sebagai gambaran, pada 2016, nilai obligasi korporasi yang terbit sebesar Rp115,43 triliun meskipun surat utang yang jatuh tempo Rp50,84 triliun. Lalu, pada 2017 surat utang yang terbit mencapai Rp166,18 triliun ketika nilai surat utang jatuh tempo berada di level Rp80,6 triliun.

“Masih ada perkembangan di pipeline 3 minggu ke depan ada Rp15 triliun yang akan terbit jadi masih sampai Rp120 triliun sampai Rp130 triliun [perkiraan penerbitan surat utang korporasi] pada tahun ini,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top