Kapal Tanker Minyak Iran Ditembak Rudal, Minyak Siap Melejit

Iran menuduh Arab Saudi menembak kapal tanker mereka di Laut Merah.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  16:00 WIB
Kapal Tanker Minyak Iran Ditembak Rudal, Minyak Siap Melejit
Bendera Iran berkibar di lapangan minyak Soroush di Teluk Persia, Iran, Senin (25/7/2005), - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menuduh Arab Saudi menyerang kapal tanker mereka di Laut Merah, Jumat (11/10/2019).

Akibatnya, harga minyak berhasil berbalik menguat dan siap untuk kembali melaju di jalur bullish.

Mengutip laporan Reuters dari National Iranian Oil Company (NIOC), serangan dengan rudal tersebut membuat kapal tanker minyak terbakar dan mengalami kerusakan parah sehingga minyak mentah bocor sekitar 60 mil atau sekitar 96 kilometer (km) dari Jeddah.

Serangan yang diduga adalah insiden terbaru yang melibatkan kapal tanker minyak di wilayah Laut Merah dan Teluk ini kemungkinan akan meningkatkan ketegangan antara Iran dan Arab Saudi.

Armada Kelima Angkatan Laut AS, yang beroperasi di kawasan itu, mengatakan mengetahui laporan media tentang kapal tanker itu, tetapi tidak memiliki informasi lebih lanjut saat ini.

Ahli Strategi Pasar Asia Pasifik AxiTrader Stephen Innes mengatakan sentimen tersebut pun sontak menjadi ancaman bagi pasokan minyak mentah dari wilayah penghasil minyak mentah paling penting di dunia, apalagi di tengah pemangkasan pasokan oleh OPEC. Sehingga, minyak siap untuk kembali bullish.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (11/10) hingga pukul 15.22 WIB, harga minyak mentah jenis WTI untuk kontrak November 2019 di bursa Nymex bergerak menguat 2,07 persen menjadi US$54,66 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Desember 2019 di bursa ICE bergerak menguat 2,2 persen menjadi US$60,4 per barel.

"Kapasitas cadangan masih rapuh dan dengan kerentanan rantai pasokan yang mengkhawatirkan di hampir setiap ladang minyak Timur Tengah, pedagang terus melakukan lindung nilai premium akibat risiko pasokan tersebut," ujar Innes seperti dilansir Reuters, Jumat (11/10).

Serangan rudal di Iran tersebut terjadi menyusul serangan pada 14 September 2019 terhadap dua pabrik pemrosesan minyak Arab Saudi. Peristiwa sebulan lalu itu sukses merontokkan lebih dari setengah produksi minyak mentah Arab Saudi, yang menyebabkan lonjakan harga minyak cukup tajam.

Sementara itu, Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal menuturkan selain karena kekhawatiran pasokan yang dihasilkan oleh ketegangan geopolitik Timur Tengah, penguatan minyak juga didukung oleh optimisme adanya hubungan yang membaik dari AS-China dan melemahnya dolar AS akibar harapan pemangkasan suku bunga The Fed.

“Ketiga faktor tersebut membantu minyak untuk menguat, apalagi kalau data dari Baker Huges yang akan dirilis menunjukkan adanya penurunan produksi minyak. Sentimen ini juga akan membuat minyak melanjutkan penguatan pada pekan depan,” terangnya kepada Bisnis, Jumat (11/10).

Kendati demikian, Faisyal menilai faktor kunci penguatan minyak mentah dunia pada pekan depan adalah negosiasi perdagangan AS-China.

Jika negosiasi berhasil menghasilkan kesepakatan yang positif, maka emas hitam tersebut diproyeksi naik cukup signifikan. Pasalnya, hingga saat ini, minyak masih dibayangi outlook permintaan yang melemah.

Bahkan, Citigroup juga memperkirakan pertumbuhan konsumsi minyak dunia hampir berkurang separuh akibat perselisihan perdagangan AS-China yang berkepanjangan sehingga melemahkan permintaan global. 

Faisyal memproyeksi minyak mentah dunia jenis WTI masih melanjutkan penguatan  pada pekan depan, dengan bergerak di kisaran US$50,5-US$59 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top