Serangan di Arab Saudi Surutkan Produksi OPEC, Terendah dalam 16 Tahun

Dua fasilitas minyak milik Saudi Aramco, perusahaan minyak milik Arab Saudi, diserang drone pada pertengahan September 2019.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  11:23 WIB
Serangan di Arab Saudi Surutkan Produksi OPEC, Terendah dalam 16 Tahun
Markas OPEC di Wina, Austria. - Reuters/Leonhard Foeger

Bisnis.com, JAKARTA -- Produksi minyak Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dilaporkan anjlok ke posisi terdalam selama 16 tahun terakhir pada bulan lalu.

Kondisi ini terjadi setelah serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi untuk sementara mengurangi produksi di pengekspor minyak mentah terbesar di dunia tersebut.

Dalam sebuah survei yang dilakukan Bloomberg, seperti dikutip Bisnis pada Rabu (2/10/2019), disebutkan bahwa persediaan minyak dari 14 anggota OPEC anjlok 1,59 juta barel per hari menjadi 28,32 juta per hari pada September 2019.

Data pelacakan kapal dan perkiraan dari para konsultan termasuk Rystad Energy AS, JBC Energy GmbH, dan Energy Aspects Ltd. menyatakan hal ini sebagai penurunan bulanan terbesar sejak pemogokan buruh secara singkat melumpuhkan industri minyak Venezuela pada 2002.

Produksi Arab Saudi jatuh 1,47 juta barel per hari menjadi 8,36 juta barel, penurunan bulanan paling tajam yang dicatat oleh data Bloomberg. Penurunan terjadi menyusul serangan pesawat tanpa awak ke dua fasilitas minyak Saudi Aramco pada 14 September 2019.

Pemberontak Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Pemerintah AS menyalahkan Iran atas insiden itu, yang dibalas dengan bantahan keras oleh negara Teluk Persia tersebut.

Namun, Saudi Aramco secara mengejutkan telah membuat kemajuan cepat dalam memperbaiki infrastruktur mereka yang rusak. Mereka menyatakan sekarang, produksi sudah sepenuhnya mencapai tingkat sebelum serangan.

Kepala Eksekutif Divisi Perdagangan Aramco Ibrahim Al-Buainain mengungkapkan produksi minyak Arab Saudi sudah mencapai 9,9 juta barel per hari pada 25 September, dan sekarang angkanya sudah lebih besar dari itu.

Meski demikian, survei menunjukkan bahwa produksi rata-rata Arab Saudi pada bulan lalu adalah yang terendah sejak 2010.

Secara keseluruhan, produksi OPEC menjadi yang terendah sejak 2009, ketika mereka memangkas produksi di tengah krisis keuangan.

Organisasi ini terdiri dari 14 produsen minyak dari Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin yang secara kolektif memompa sekitar sepertiga dari minyak mentah dunia.

Secara berkala, OPEC meningkatkan atau memangkas produksi untuk menjaga pasar dalam keseimbangan, serta mempertahankan harga minyak. Selama tiga tahun terakhir ini dibantu oleh berbagai negara non anggota yang dipimpin Rusia.

Sebelum serangan terjadi, Arab Saudi memimpin OPEC untuk menurunkan produksi demi mencegah kelebihan pasokan yang bisa mengganggu harga. Pasalnya, saat itu, permintaan melemah dan produksi minyak serpih AS mencatatkan kenaikan.

Hanya beberapa hari sebelum serangan itu, OPEC dan sekutu-sekutunya berkumpul di Abu Dhabi. Negara-negara yang kurang disiplin dalam pengurangan produksi, yakni Irak dan Nigeria, saat itu berjanji untuk ikut serta dalam pemangkasan output.

Survei menunjukkan bahwa sementara Nigeria melakukan beberapa upaya, Irak tidak.

Di sisi lain, jika bukan karena krisis di Teluk, maka bulan ini perhatian kemungkinan akan terfokus ke Venezuela. Sanksi AS dan resesi ekonomi yang berkelanjutan di negara Amerika Selatan itu kembali memicu jatuhnya produksi.

Produksi minyak Venezuela turun 80.000 barel per hari menjadi 680.000 barel per hari. Jumlah tersebut mendekati level ketika terjadi pergolakan nasional lebih dari 16 tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak, opec

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top