Rancang Stock Split 1:5, Ini Alasan Tower Bersama Infrastructure (TBIG)

Dengan adanya stock split, diharapkan harga saham perseroan menjadi lebih terjangkau untuk investor publik ritel dan juga meningkatkan likuiditas saham.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  18:14 WIB
Rancang Stock Split 1:5, Ini Alasan Tower Bersama Infrastructure (TBIG)
Presiden Direktur PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, Herman Setya Budi (kiri) didampingi Direktur Helmy Yusman Santoso memberikan penjelasan, usai RUPST di Jakarta, Selasa (21/5/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. berencana menggelar pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:5.

Rencana tersebut diungkapkan dalam pengumuman panggilan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang bakal digelar perseroan pada 30 Oktober 2019.

Dalam RUPSLB tersebut, emiten menara telekomunikasi itu mengagendakan lima mata acara. Salah satunya, persetujuan stock split dari Rp100 per saham menjadi Rp20 per saham.

Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan melalui stock split, perseroan ingin membuka akses bagi investor ritel karena harga saham yang menjadi lebih murah.

Selain itu, dia juga berharap agar likuiditas saham meningkat pascaeksekusi stock split. Langkah stock split juga sebelumnya telah dilakukan rival TBIG, yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) pada tahun lalu.

“Dengan adanya stock split, diharapkan harga saham perseroan menjadi lebih terjangkau untuk investor publik ritel dan juga meningkatkan likuiditas saham perseroan,” katanya saat dihubungi Bisnis, Selasa (8/10/2019).

Pada akhir perdagangan Selasa (8/10/2019), saham TBIG menguat 25 poin atau 0,4% ke level Rp6.325. Sepanjang tahun berjalan 2019, saham TBIG melesat 75,69%.

Dengan asumsi stock split 1:5 dilaksanakan pada harga penutupan hari ini, TBIG akan turun harga ke level Rp1.265 per saham.

Selain stock split, perseroan juga akan meminta restu pemegang saham untuk menerbitkan surat utang senilai US$650 juta atau sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan kurs pada 30 Juni 2019.

Sepanjang paruh pertama 2019, TBIG meraup pendapatan sebesar Rp2,27 triliun semester I/2019 atau naik 9,57% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni sebesar Rp2,07 triliun.

ementara itu, dari sisi laba justru mengalami penurunan sebesar 5,16% yakni dari Rp402,97 miliar pada semester I/2018 menjadi Rp382,14 miliar pada semester I/2019.

Hingga akhir tahun 2019, perseroan menargetkan penambahan 3.000 penyewa yang terdiri dari 1.000 menara dan 2.000 kolokasi. Dengan rencana tersebut, perseroan bakal membelanjakan modal sebesar Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun.

TBIG memiliki 26.713 penyewaan dan 15.344 situs telekomunikasi. Situs telekomunikasi tersebut terdiri dari 15.272 menara telekomunikasi dan 72 jaringan DAS.

Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 26.641, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 1,74 kali atau naik dari 1,71 kali secara kuartalan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Aksi Korporasi, tower bersama

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top