Stok Minyak Mentah AS Melonjak, Harga Acuan Merosot

Meningkatnya pasokan dibarengi dengan lemahnya prospek ekonomi AS.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  13:35 WIB
Stok Minyak Mentah AS Melonjak, Harga Acuan Merosot
Kilang minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga minyak turun lebih dari 2 persen setelah data resmi menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah AS, sehingga menambah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan di pasar karena prospek ekonomi yang lemah di Negeri Paman Sam menekan pasar keuangan global.

Seperti dilansir dari Reuters, Kamis (3/10/2019), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup turun 1,20 poin atau 2 persen menjadi US$57,69 per barel pada Rabu (2/10). Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 98 poin atau 1,8 persen, menjadi US$52,64 per barel.

Indeks utama Wall Street anjlok lebih dari 2 persen karena data menunjukkan dampak dari perang dagang AS-China merugikan pasar tenaga kerja AS. Acuan ekuitas dunia mencapai level terendah dalam sebulan.

Sementara itu, US Energy Information Administration melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 3,1 juta barel pada pekan lalu, jauh melebihi ekspektasi analis yang sebesar 1,6 juta barel. Stok minyak mentah di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma menunjukkan penurunan 201.000 barel untuk WTI.

"Saya pikir Anda terus mendapatkan tanda-tanda bahwa pertumbuhan permintaan adalah hambatan utama di pasar, dengan angka manufaktur mengecewakan yang keluar kemarin," kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

Pada Selasa (2/10), harga WTI bulan depan turun untuk sesi keenam secara berturut-turut. Ini merupakan penurunan beruntun terpanjang tahun ini setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur AS turun ke level terendah dalam 10 tahun.

“Bahkan, dengan 12 hari dan penghitungan aksi perdagangan bearish pada WTI berjangka, pasar itu sekarang baru mulai mencapai wilayah oversold. [Level] US$50,50 masih merupakan level pendukung utama,” tutur David Thompson, wakil presiden eksekutif di Powerhouse, pialang komoditas khusus energi di Washington.

Tanda-tanda meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga membebani harga. Ketegangan berkobar setelah Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco pada 14 September 2019, tuduhan yang dibantah Teheran.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh berusaha meredakan ketegangan dengan Arab Saudi. Dia menyebut rekannya di Riyadh, Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman sebagai teman.

Zanganeh juga menyatakan Teheran berkomitmen untuk menjaga stabilitas di kawasan itu. Kedua menteri perminyakan, yang berulang kali bentrok pada pertemuan OPEC mengenai kebijakan produksi, menghadiri konferensi energi Rusia yang diketuai oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di sisi lain, Zanganeh memperkirakan ada sedikit surplus dalam pasokan minyak tahun depan.

Adapun Putin menyampaikan pentingnya menggunakan semua alat yang tersedia untuk menyeimbangkan pasar energi. Dia berjanji Rusia akan tetap menjadi pemain utama dalam OPEC +, aliansi antara OPEC dan negara-negara penghasil minyak lainnya, yang telah memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari.

Menteri Energi dan Industri Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrouei menerangkan tingkat kesesuaian adalah sama seperti yang sebelumnya diumumkan pada pertemuan komite pemantauan bersama menteri OPEC + terakhir.

Dalam perkembangan lain, Ekuador, salah satu anggota OPEC terkecil, melaporkan akan meninggalkan blok 14 negara tersebut mulai 1 Januari 2020 karena masalah fiskal. Ekuador akan menjadi negara kedua yang menarik diri dari OPEC setelah Qatar pada 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, ekonomi as

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top