Dolar AS Jatuh dari Level Tertinggi Didorong Kekhawatiran Resesi AS

Melemahnya sektor manufaktur memicu kekhawatiran pasar atas kemungkinan AS menuju resesi.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  16:03 WIB
Dolar AS Jatuh dari Level Tertinggi Didorong Kekhawatiran Resesi AS
Petugas kasir menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang, di Jakarta, Selasa (2/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA -- Dolar AS jatuh dari level tertingginya didorong oleh data ekonomi terbaru AS yang menunjukkan pelemahan di sektor manufaktur AS, yang memicu kekhawatiran pasar atas kemungkinan AS menuju resesi. Kondisi ini membuka peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga acuan kembali pada sisa tahun ini.

Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks aktivitas pabrik nasional AS turun menjadi 47,8, angka terendah sejak Juni 2009. Angka di bawah 50 menandakan sektor pabrik domestik sedang berkontraksi.

Data menunjukkan sektor manufaktur AS mengalami kontraksi pada September 2019, ke level terlemah dalam lebih dari satu dekade karena kondisi bisnis memburuk di tengah ketegangan perdagangan antara AS dan China yang berlarut-larut.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (2/10/2019) hingga pukul 15.07 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak menguat 0,18 persen menjadi 99,302. Sebelumnya, indeks dolar AS bergerak menguat cukup kokoh mencapai level tertingginya di 99,667.

Kepala Ekonom AS Capital Economics Toronto Paul Ashworth menduga pelemahan sektor manufaktur tersebut disebabkan oleh aksi pemogokan di General Motors Co yang dimulai pada pertengahan bulan lalu. Aksi tersebut menjadi aksi pemogokan pertama dalam 12 tahun terakhir di perusahaan otomotif itu oleh United Auto Workers, serikat pekerja perusahaan tersebut.

Dolar AS juga tertekan oleh laporan yang menunjukkan pengeluaran konstruksi AS hampir tidak naik pada periode Agustus 2019.

“Selain itu, laporan ISM memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) lebih lanjut pada pertemuan Desember 2019,” ujar Ashworth seperti dilansir dari Reuters, Rabu (2/10).

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali menyalahkan The Fed akibat data ISM yang cukup mengecewakan karena bank sentral AS tidak memangkas suku bunga acuan lebih dalam dan membuat dolar AS bergerak cukup tinggi.

Seperti diketahui, suku bunga cenderung memiliki pengaruh pada mata uang. Negara yang memiliki suku bunga lebih tinggi cenderung menarik modal internasional sehingga memperkuat mata uang negara tersebut.

“Jika suku bunga lebih rendah, dolar AS akan jauh lebih lemah dan produsen akan lebih mampu bersaing di panggung global,” ujar Trump dalam cuitannya di akun Twitter resminya. 

Sepanjang tahun berjalan 2019, indeks dolar AS telah bergerak menguat 3,25 persen.

Kendati demikian, prospek greenback diprediksi masih tetap solid meskipun data ekonomi tersebut menunjukkan pelemahan ekonomi AS.

Trader Valas Tempus Inc Washington Juan Perez menuturkan meskipun The Fed dapat menurunkan suku bunga acuannya, dolar AS tidak benar-benar kehilangan kekuatannya karena efek domino dari pemangkasan suku bunga The Fed.

“Semua bank sentral akan mengikuti The Fed dalam memotong suku bunga, dengan ekonomi yang tumbuh 2 persen setiap kuartal sementara seluruh dunia sedang berjuang, dolar AS tampaknya masih menjadi aset yang lebih aman," ujarnya.

Hal itulah yang menyebabkan dolar AS masih bergerak cukup menguat pada perdagangan kali ini, meski turun dari level tertingginya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top