Bumi Resources Minerals (BRMS) Targetkan Tambang Dairi Mulai Produksi 2022

Proyek Tambang Dairi dikelola oleh PT Dairi Prima Mineral dengan komposisi kepemilikan saham yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk. dengan kepemilikan 49% dan oleh NFC China dengan kepemilikan 51%.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  14:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bumi Resources Minerals Tbk. menargetkan proyek tambang seng dan timah hitam yang berada di Tambang Dairi dapat mulai produksi pada 2022.

Berdasarkan catatan Bisnis sebelumnya, tambang seng dan timah hitam di Dairi, Sumatra Utara segera memasuki tahap produksi pada 2021. Namun, pada perkembangan yang terbaru, tambang tersebut ditargetkan baru beroperasi pada 2022.

Direktur dan Investor Relations Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat menjelaskan bahwa dengan masuknya NFC China sebagai mitra pemilik saham kerja sama mayoritas, sekaligus kontraktor engineering, procurement and construction (EPC), maka perlu masa penyesuaian untuk pekerjaan konstruksi dan mulai uji coba produksi.

“Untuk itu diharapkan project commissioning dan trial production bisa dilakukan pada 2022,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (30/9/2019).

Sekadar informasi, proyek Tambang Dairi dikelola oleh PT Dairi Prima Mineral dengan komposisi kepemilikan saham yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk. dengan kepemilikan 49% dan oleh NFC China dengan kepemilikan 51%. Kontraktor EPC saat ini juga dilakukan oleh NFC China.

Project Dairi merupakan tambang seng dan timah hitam dengan grade atau kualitas seng di atas 9% yang termasuk kualitas tertinggi di dunia.

Herwin menjelaskan bahwa proyek Tambang Dairi sudah mengantongi izin produksi dari pemerintah sampai dengan 2047. Rencana produksi dari lokasi tambang timah hitam pada awal 2022 dengan estimasi produksi sekitar 250.000 ton bijih per tahun pada tahun pertama.

Selanjutnya, pada tahun kedua produksi ditargetkan dapat naik ke 500.000 ton bijih per tahun. Sementara itu, pada tahun ketiga ditargetkan dapat naik ke 1 juta ton bijih per tahun dan akan konsisten pada 1 juta ton bijih per tahun sampai tahun kedelapan.

“Bujet untuk proyek Dairi di Sumatra Utara masih difinalkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Herwin mengungkapkan bahwa perseroan berharap dapat memulai produksi untuk tambang emas di Palu, Sulawesi Tengah pada kuartal IV/2019. Produksi emas di Palu akan dimulai pada beberapa tahap. Pada tahap pertama akan dimulai denga 100.000 ton bijih per tahun.

Tahap selanjutnya, target volume produksi akan meningkat 80% menjadi 180.000 ton bijih per tahun yang ditargetkan pada produksi tahun kedua.

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan perseroan hingga semester I/2019, emiten bersandi saham BRMS tersebut mengantongi pendapatan senilai US$2,96 juta, meningkat pesat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$825.000.

Sementara itu, BRMS membalikan posisi rugi menjadi laba senilai US$932.697 dari rugi bersih tahun berjalan pada semester I/2018 senilai US$10,37 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, bumi mineral resources

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top