Fasilitas Minyak AS Dianggap Aman dari Serangan Drone, Ini Alasannya

Amy Myers Jaffe, pakar energi dari Foreign Relations mengatakan hal tersebut, Selasa (17/6/2019) seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (21/9/2019). “[Sebab] industri minyak AS memiliki tingkat antisipasi yang tinggi,” katanya.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 21 September 2019  |  17:46 WIB
Fasilitas Minyak AS Dianggap Aman dari Serangan Drone, Ini Alasannya
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Gaya serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi, pada Sabtu (14/9), yang menghancurkan setengah dari produksi dalam negeri, diperkirakan tidak akan terjadi di Amerika Serikat.

Amy Myers Jaffe, pakar energi dari Foreign Relations mengatakan hal tersebut, Selasa (17/6) seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (21/9/2019). “[Sebab] industri minyak AS memiliki tingkat antisipasi yang tinggi,” katanya.

Menurut Jaffe, kilang-kilang minyak AS sering padam seteelah kecelakaan atau badai, tetapi dampaknya ke pasar sedikit. Bahkan produksi minyak di ladang terbesar di AS, Premian Basin di Texas dan New Mexico, tersebar di ribuan sumur di wilayah seluas 194.250 kilometer persegi.

“Sangat sulit membayangkan beberapa kelompok menempatkan orang-orang di sini, dan mereka akan menerbangkan pesawat tanpa awak di Houston Ship Channel atau di Newark dan entah bagaimana itu tidak akan diperhatikan?” katanya.

Dia melihat hal yang justru perlu diantisipasi oleh industri minyak AS adalah kerentanan terhadap serangan siber.

Ben West, analis keamanan dari perusahaan intelijen Stratfor mengatakan, AS memiliki lebih banyak penyangga geografis dibandingkan dengan Arab Saudi. Selain itu, AS tidak bermusuhan dengan negara tetangga-tetangga mereka.

“Infrastruktur yang paling rentan, saluran pipa, dapat diperbaiki dengan cepat,” kata West.

Bahkan jika ada serangan, sambungnya, tidak mungkin untuk merobohkan setengah produksi minyak dan gas AS. "Saya pikir Iran lebih mungkin untuk berhasil melakukan serangan dunia maya daripada serangan rudal jelajah atau serangan pesawat tak berawak, dan itu masih merupakan skenario yang tidak mungkin."

Keamanan untuk infrastruktur energi AS diperketat pada tahun-tahun setelah serangan 11 September 2001.

Henry Willis, seorang peneliti kebijakan senior di RAND Corporation mengatakan, AS telah memasukkan standar pemeriksaan yang lebih ketat dan latar belakang dan kredensial pekerja yang lebih baik.

"Kita tahu bahwa begitu seseorang menemukan jalan, orang lain belajar. Saya membayangkan jika Anda bertanggung jawab atas keamanan fasilitas dan Anda belum melakukannya, Anda menilai bagaimana Anda memperhitungkan ancaman drone."

Serangan pesawat tanpa awak atau drone menargetkan kilang minyak Abqaiq dan ladang minyak Khurais di Arab Saudi, pada Sabtu (14/9/2019). Dampak serangan di fasilitas pemrosesan milik Saudi Aramco itu memotong produksi minyak Saudi sebesar 5,7 juta bph.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, shale gas

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top