Makin Bergantung pada Batu Bara, Indonesia dan Sejumlah Negara Asia Disindir PBB

Ada beberapa negara di kawasan Asia yang masih sangat mengandalkan batu bara dan bahan bakar fosil sebagai sumber energi, seperti India, Indonesia, Filipina dan Vietnam.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 05 September 2019  |  16:42 WIB
Makin Bergantung pada Batu Bara, Indonesia dan Sejumlah Negara Asia Disindir PBB
Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Ketergantungan negara-negara Asia yang sangat besar terhadap tenaga listrik batu bara, dinilai menghambat kemajuan global untuk mencegah bencana perubahan iklim.

Ovais Sarmad, Wakil Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, mengatakan negara-negara berkembang seperti India, Indonesia, Filipina dan Vietnam semakin beralih ke batu bara murah untuk memenuhi permintaan listrik mereka yang tumbuh cepat.

Hal itu terjadi di saat negara-negara lain meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Meskipun bagian energi terbarukan dari total campuran bahan bakar untuk pembangkit listrik masih kecil.

“Negara-negara Asia mesti menyiapkan tujuan yang lebih ambisius untuk berkontribusi pada upaya global untuk mengekang perubahan iklim,” katanya dikutip dari Reuters, Kamis (5/9/2019).

Lebih lanjut Sarmad mengatakan, ada beberapa negara di kawasan Asia yang masih sangat mengandalkan batu bara dan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. “Di beberapa wilayah hal ini [penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil] sedang tumbuh," katanya.

Baginya, persoalan tersebut sangat serius, karena bertentangan dengan upaya di belahan dunia lain terkait penggunaan energi yang lebih bersih.

Komentar Sarmad itu muncul ketika para pejabat negara-negara Asia bertemu di ibu kota Thailand Bangkok minggu ini untuk membahas cara-cara untuk memacu upaya regional, dan global, memerangi perubahan iklim.

Seperti diketahui, Konferensi Perubahan Iklim PBB 2015 di Paris menelurkan Persetujuan Paris. Perjanjian tersebut membidik pengurangan emisi karbon dioksida efektif berlaku sejak 2020.

Adapun tujuan dari perjanjian ini, salah satunya, mengerem laju peningkatan temperatur global hingga di bawah 2 derajat celsius dari angka sebelum masa Revolusi Industri.

Para ilmuwan memperingatkan, pemanasan global lebih lanjut diperkirakan dapat mendorong sistem iklim lebih dekat ke titik kritis ireversibel, meningkatkan risiko kegagalan panen, migrasi paksa, kepunahan massal spesies, keruntuhan ekosistem, dan kerusakan sosial.

Beberapa kota besar di Asia, seperti Bangkok, Jakarta dan Manila, juga berisiko tenggelam, karena permukaan laut naik.

“Tindakan radikal, transformatif, dan sangat ambisius perlu terjadi di semua tingkatan. Kami hanya punya sedikit waktu,” kata Sarmad.

Konferensi Bangkok dihelat menjelang pertemuan puncak iklim di New York bulan ini, dan Konferensi Perubahan Iklim pada Desember di COP25 di Chili.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, batu bara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top