Ringkasan Perdagangan 2 September: IHSG Terpeleset, Rupiah Tetap Tegar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu melanjutkan relinya dan terpaksa ditutup di zona merah pada perdagangan hari ini, di tengah pelemahan bursa Asia akibat terbebani eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 02 September 2019  |  19:31 WIB
Ringkasan Perdagangan 2 September: IHSG Terpeleset, Rupiah Tetap Tegar
Karyawan berdiri di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu melanjutkan relinya dan terpaksa ditutup di zona merah pada perdagangan hari ini, di tengah pelemahan bursa Asia akibat terbebani eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) dan China.

Kendati demikian, nilai tukar rupiah berhasil memperpanjang penguatannya untuk hari ketiga berturut-turut didorong koreksi harga minyak yang menjadi katalis positif bagi rupiah.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Senin (2/9/2019):

IHSG Menyerah di Zona Merah Usai Reli 4 Hari

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berakhir melemah 0,60 persen atau 37,92 poin di level 6.290,55 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Seiring dengan pelemahan IHSG, bursa saham di Jepang dan Hong Kong menurun dalam volume perdagangan yang tipis, sehari setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif baru terhadap impor China senilai sekitar US$110 miliar.

Kontraksi Indeks Manajer Pembelian (PMI) resmi China yang dirilis pada Sabtu (31/8/2019) menyoroti tekanan yang dihadapi negara berekonomi terbesar kedua di dunia itu akibat melemahnya permintaan dan meningkatnya ketegangan perdagangan dengan AS.

Keresahan pasar juga tak lepas dari ketegangan di Hong Kong, setelah ribuan pengunjuk rasa memblokir jalan dan jaringan transportasi umum ke bandara Hong Kong akhir pekan kemarin.

Rupiah Menguat 3 Perdagangan Berturut-turut

Rupiah melanjutkan penguatan sehingga berhasil ditutup di zona hijau dalam 3 perdagangan berturut-turut seiring dengan optimisme pasar terhadap sengketa perdagangan antara AS dan China akan segera menghasilkan kesepakatan.

Selain itu, harga minyak yang cenderung terkoreksi juga menjadi katalis positif bagi rupiah. Pasalnya, Indonesia adalah negara net importir minyak yang harus mengimpor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga turunnya harga minyak akan membantu kinerja neraca dagang Indonesia.

Kemudian, data inflasi Agustus yang tercatat di level 3,49% secara yoy dan cenderung terkendali menjadi fundamental yang kuat bagi rupiah.

Tarif Impor China dan AS Mulai Berlaku, Harga Minyak Melemah

Harga minyak melemah, setelah sejumlah tarif baru yang dikenakan oleh Amerika Serikat dan China mulai berlaku pada bulan ini, sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang pertumbuhan perekonomian global dan permintaan minyak mentah.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, kedua belah pihak masih akan bertemu untuk pembicaraan akhir bulan ini. Trump, menulis di Twitter, tujuan itu adalah untuk mengurangi ketergantungan AS pada China. Dia kembali mendesak perusahaan-perusahaan Amerika untuk mencari pemasok alternatif di luar China.

Retribusi Beijing sebesar 5% pada minyak mentah AS menandai pertama kalinya bahan bakar telah ditargetkan sejak dua ekonomi terbesar dunia memulai perang dagang mereka lebih dari setahun yang lalu.

Larangan Ekspor Indonesia Dimajukan, Harga Nikel Meroket

Nikel memperpanjang reli penguatan dan berhasil mencapai level tertingginya sejak 2014 setelah Indonesia mengumumkan untuk memajukan batasan larangan ekspor bijih nikel menjadi 1 Januari 2020 yang semula berlaku pada awal 2022.

Keputusan tersebut diprediksi semakin memperketat pasar dan memacu spekulasi bahwa logam yang digunakan sebagai bahan stainless steel tersebut akan mengalami defisit pasokan yang cukup signifikan.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa kenaikan harga nikel didorong penuh oleh keputusan Indonesia untuk memajukan batasan larangan ekspor bijih nikel yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau naik 5 poin atau 0,33 persen ke level US$1.534,40 per troy ounce pukul 16.35 WIB. Sepanjang perdagangan hari ini, emas kontrak Desember bergerak di level 1.528 – 1.544,50.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, naik tipis 0,08 persen atau 0,077 poin ke posisi 98,993.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta naik sebesar Rp5.000 menjadi Rp768.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam ikut naik Rp5.000 menjadi Rp695.000 per gram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Harga Emas Hari Ini

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top