Resesi Mengancam, Pasar Saham Global Terguling

Bursa saham global merosot ke posisi terendahnya dalam lebih dari dua bulan pada awal perdagangan di Asia hari ini, Kamis (15/8/2019), menyusul anjloknya bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran tentang meningkatnya risiko resesi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  09:17 WIB
Resesi Mengancam, Pasar Saham Global Terguling
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham global merosot ke posisi terendahnya dalam lebih dari dua bulan pada awal perdagangan di Asia hari ini, Kamis (15/8/2019), menyusul anjloknya bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran tentang meningkatnya risiko resesi.

Berdasarkan data Reuters, bursa Asia dibuka meluncur dengan indeks Nikkei Average Jepang anjlok 2 persen dan bursa saham Australia merosot 1,9 persen. Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik, selain Jepang, turun 0,4 persen pada awal perdagangan.

Adapun indeks MSCI ACWI, yang menggabungkan data dari 49 pasar ekuitas di seluruh dunia, turun tajam 2,1 persen ke level terendah sejak 4 Juni, sedangkan E-Mini futures untuk S&P 500 turun 0,1 persen.

Pada Rabu (14/8), imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun di bawah imbal hasil dua tahun, untuk pertama kalinya sejak 2007. Ini dikenal sebagai inversi kurva imbal hasil dan dianggap oleh investor sebagai tanda bahwa resesi akan datang.

“Kurva imbal hasil menunjukkan bahwa resesi hampir akan terjadi dan investor tersandung untuk keluar darinya karena resesi ekonomi merugikan laba perusahaan dan saham-saham bisa turun sebanyak 20 persen,” ujar Chris Rupkey, kepala keuangan ekonom di MUFG Union Bank.

Pada perdagangan Rabu, bursa saham Amerika Serikat sontak melemah tajam karena kekhawatiran resesi mencengkeram pasar, setelah inversi kurva imbal hasil Treasury AS untuk pertama kalinya dalam 12 tahun.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 800,49 poin atau 3,05 persen, ke level 25.479,42, sedangkan indeks S&P 500 melemah 85,72 poin atau 2,93 persen, ke 2.840,6, dan Nasdaq Composite turun 242,42 poin atau 3,02 persen ke level 7.773,94.

Ketiga indeks utama AS tersebut mampu naik tajam pada perdagangan Selasa (13/8), setelah pemerintah AS mengumumkan menunda pengenaan tarif 10 persen pada sejumlah barang asal China.

Namun berselang sehari, Dow Jones mencatat penurunan harian terbesar sejak Oktober setelah yield obligasi Treasury AS bertenor 2 tahun melampaui yield obligasi 10 tahun, yang dianggap sebagai sinyal resesi.

Sentimen negatif bertambah dari data ekonomi China dan Jerman yang tertekan eskalasi perang perdagangan AS-China, ketidakpastian Brexit, dan ketegangan geopolitik.

Jerman mencatat kontraksi dalam produk domestik bruto kuartal kedua, sedangkan pertumbuhan industri China pada bulan Juli mencapai level terendah dalam 17 tahun terakhir.

Menurut data Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis Rabu (14/8), produksi industri naik 4,8 persen pada Juli 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Raihan ini lebih rendah dari estimasi median sebesar 6 persen.

Data NBS juga menunjukkan penjualan ritel berekspansi 7,6 persen pada April, lebih kecil dari proyeksi kenaikan 8,6 persen. Adapun investasi aset tetap melambat menjadi 5,7 persen sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, 0,1 persen lebih rendah dari perkiraan.

Adapun Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman turun 0,1 persen q-o-q, setelah mampu tumbuh 0,4 persen pada kuartal I/2019.

"Investor sekarang harus menyadari bahwa keadaan bisa berubah menjadi lebih buruk di masa mendatang,” ujar Zhang Gang, pakar strategi Central China Securities Co.

“Perkembangan perdagangan [AS-China] saja tidak akan cukup untuk mendorong rebound saham jika ekonomi tidak menunjukkan tanda-tanda stabilisasi,” tambahnya.

Sementara itu, para pejabat pemerintah AS pada Rabu (14/8) mengatakan bahwa China tidak membuat konsesi perdagangan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan menunda tarif 10 persen atas impor China senilai lebih dari US$150 miliar.

Ini menjadi tanda terbaru bahwa upaya untuk mencapai kesepakatan perdagangan antara kedua negara masih mandek.

Berbaliknya kurva imbal hasil ini merupakan yang pertama kalinya sejak Juni 2007, beberapa bulan sebelum resesi besar yang menekan pasar selama bertahun-tahun. Sejak 50 tahun terakhir, kurva imbal hasil obligasi AS diketahui selalu berbalik sebelum terjadinya resesi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, wall street

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top