Gejolak Saham Global Mereda, Ancaman Pelemahan Yuan Belum Usai

Pelemahan bursa Asia mengecil, bursa Eropa turun tipis sedangkan indeks futures Amerika Serikat (AS) rebound dari pelemahannya, setelah pemerintah China mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan nilai tukar yuan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  15:48 WIB
Gejolak Saham Global Mereda, Ancaman Pelemahan Yuan Belum Usai
Uang kertas dolar AS yang menampilkan pendiri negara Amerika Benjamin Franklin dan uang kertas yuan China yang menampilkan mendiang pendiri Republik Rakyat China Mao Zedong terlihat di antara bendera AS dan China dalam gambar ilustrasi yang diambil 20 Mei 2019. - REUTERS / Jason Lee.

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan bursa Asia mengecil, bursa Eropa turun tipis sedangkan indeks futures Amerika Serikat (AS) rebound dari pelemahannya, setelah pemerintah China mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan nilai tukar yuan.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 turun 0,1 persen dan indeks futures S&P 500 menanjak 0,6 persen pada pukul 08.23 pagi waktu London (pukul 14.23 siang WIB).

Adapun indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,8 persen ke level terendahnya dalam hampir tujuh bulan, indeks DAX Jerman naik 0,3 persen, dan indeks FTSE Inggris turun 0,4 persen.

Dilansir dari Bloomberg, aksi jual yang melanda pasar modal global mereda setelah China menetapkan kurs mata uangnya lebih kuat dari level 7 per dolar.

Pada perdagangan Senin (5/8), nilai tukar yuan ambrol hingga menembus level kunci ini terhadap dolar AS dan seketika memicu kemerosotan besar-besaran dalam pasar keuangan dunia.

Namun siang ini indeks Stoxx Europe 600 memangkas penurunan yang dibukukan sebelumnya dan indeks S&P 500 bangkit dari pelemahannya.

Di sisi lain, indeks MSCI Asia Pacific Index masih melanjutkan pelemahannya menyusul penurunan tajam yang dialami bursa saham AS pada akhir perdagangan Senin (5/8).

Sementara itu, nilai tukar yen yang kerap diburu investor di tengah ketidakpastian, tergelincir melemah setelah ditutup di level terkuatnya dalam lebih dari satu tahun pada Senin (5/8).

Pada Senin (5/8), nilai tukar yuan anjlok terhadap dolar AS setelah Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBoC) menetapkan nilai referensi harian lebih rendah dari 6,9 untuk pertama kalinya sejak Desember.

Sebagian investor melihat aksi tersebut sebagai pembalasan atas rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap sisa impor China oleh pemerintah AS mulai 1 September. Presiden Trump sontak meresponsnya dengan keras dan menyebut China sebagai manipulator mata uang.

Gejolak dalam pasar kemudian mereda setelah China menetapkan tingkat referensi yuan yang lebih kuat dari perkiraan analis.

Bank Sentral China menyatakan menjual uang kertas berdenominasi yuan di Hong Kong dan menetapkan tingkat referensi harian untuk perdagangan di China yang sedikit lebih kuat dari yang diperkirakan pasar

Langkah China untuk menstabilkan yuan itu menawarkan sedikit kelegaan, meskipun terlambat menghindari pelabelannya sebagai "manipulator". Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pun menyatakan bahwa pemerintah AS telah menentukan China memanipulasi mata uangnya.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Keuangan AS mengatakan Menteri Keuangan Steven Mnuchin akan berhubungan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menghilangkan keunggulan kompetitif tidak adil yang diciptakan oleh tindakan terbaru China.

“Persoalannya adalah mereka [China] telah menunjukkan bahwa mereka tak segan bermain-main dengan level 7 itu,” ujar Andrew Sullivan, Direktur Pearl Bridge Partners kepada Bloomberg TV.

“Pasar benar-benar tidak memiliki pegangan yang kuat pada seberapa jauh nilai tukar mata uang itu [yuan] bisa bergerak [melemah].”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, bursa eropa, perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top