Komisaris Krakatau Steel (KRAS) Ajukan Pengunduran Diri, Ada Apa?

Roy Edison Maningkas mengaku telah mengajukan surat pengunduran diri pada 11 Juli 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  11:01 WIB
Komisaris Krakatau Steel (KRAS) Ajukan Pengunduran Diri, Ada Apa?
Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis (7/2/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA — Komisaris Independen PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Roy Edison Maningkas mengajukan pengunduran diri dari jajaran Dewan Komisaris perseroan.

“Saya [pada] 11 Juli 2019, mengajukan pengunduran diri, langsung bawa ke Deputi dan Menteri [BUMN],” ujarnya di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Roy mengatakan mengajukan surat kepada Kementerian BUMN dengan dissenting opinion proyek blast furnace dan sekaligus mengajukan pengunduran diri sebagai komisaris independen.

Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk mendapat perhatian dari Kementerian BUMN agar negara tidak dirugikan dengan proyek blast furnace. Tetapi, pihaknya mengklaim dissenting opinion itu mendapat respons negatif dari Kementerian BUMN.

“Saya sudah kirimkan surat kepada Kementerian BUMN 3-4 kali untuk mengingatkan terkait proyek blast furnace. Anda punya proyek, saya ditugaskan mengawasi, saya kasih tahu ada begini-begini kok malah saya dimarahin?” papar Roy.

Dia menjelaskan bahwa proyek blast furnace sudah terlambat 72 bulan. Harga pokok produksi yang dihasilkan lebih mahal US$82 per ton jika dibandingkan dengan harga pasar.

“Jika produksi 1,1 juta ton per tahun, potensi kerugian Krakatau Steel Rp1,3 triliun per tahun,” sebut Roy.

Roy diangkat sebagai Komisaris Independen Krakatau Steel dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) kinerja tahun buku 2014, pada 2 April 2015. Sebelum bergabung ke produsen baja pelat merah itu, dia bergelut di dunia konsultan keuangan dan investasi selama 26 tahun.

Beberapa posisi yang pernah Roy isi di antaranya Penasihat Keuangan atau Investor Relation PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pada 2008—2010, Konsultan Investor Relation PT Bank Bukopin Tbk. pada 2010—2011, dan konsultan Investor Relation PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. pada 2014.

Dalam catatan Bisnis, emiten berkode saham KRAS itu membukukan kerugian beruntun sejak 2012 hingga 2018. Rugi yang dibukukan sepanjang periode itu yakni US$20,43 juta (2012), US$13,98 juta (2013), US$147,11 juta (2014), US$320 juta (2015), US$171,69 juta (2016), US$81,74 juta (2017), dan US$74,82 juta (2018).

Oleh karena itu, manajemen KRAS tengah melancarkan serangkaian langkah restrukturisasi, mulai dari upaya restrukturisasi utang senilai US$2,2 miliar, penjualan aset-aset non-core atau non-inti perseroan, hingga spin off divisi usaha.

Bahkan, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim sempat mengungkapkan ingin bergabung dengan Holding BUMN Industri Pertambangan. Strategi itu dipandang dapat mempercepat proses transformasi dan restrukturisasi perseroan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
krakatau steel, kementerian bumn

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top