Rerata Nilai Perdagangan Harian SUN Turun, Ini Alasannya

Rata-rata perdagangan harian surat utang negara (SUN) pada Mei 2019 terpantau mengalami penurunan menjadi Rp15,43 triliun secara nominal setelah mencapai rekor tertinggi pada Maret 2019 senilai Rp20,8 triliun.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  16:48 WIB
Rerata Nilai Perdagangan Harian SUN Turun, Ini Alasannya
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Rata-rata perdagangan harian surat utang negara (SUN) pada Mei 2019 terpantau mengalami penurunan menjadi Rp15,43 triliun secara nominal setelah mencapai rekor tertinggi pada Maret 2019 senilai Rp20,8 triliun.

Data Direktorat Jendral Pembiaayaan dan Resiko (DJPPR) tersebut juga memperlihatkan bahwa dari sisi volume transaksi justru merupakan yang tertinggi selama 5 bulan berjalan tahun ini.

Di sisi lain, aktivitas transaksi tahun ini juga mencapai rekor tertingginya dari sisi nominal selama 2 tahun terakhir pada Maret 2019. Secara total, rata-rata  dari sisi nominal dan frekuensi hingga Mei ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian akhir 2017 dan 2018.

Secara berurutan, pada akhir 2017 dan 2018 masing-masing nominal dan transaksi tercatat senilai Rp12,188 triliun dan Rp14,49 triliun.

Kepala riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan bahwa pergerakan yield SUN pada Mei 2019 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Secara otomatis hal itu juga menyebabkan dari sisi nominal lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan harga SUN, ungkapnya membuat sebagian investor tertarik untuk  mengambil aksi beli. Kendati demikian, banyaknya transaksi dengan harga yang lebih rendah membuat total nominal transaksi masih lebih kecil.

Selain itu, kondisi global pada Mei selama bulan puasa dan sebelum lebaran tercipta ekspektasi pasar akan penurunan suku bunga dan harapan naiknya investment grade.

“Ke depan kami melihat tren yield SUN turun sejalan dengan penurunan suku bunga. Hal ini biasanya akan diikuti dengan minat beli yang lebih tinggi sehingga transaksi bisa lebih meningkat,” jelasnya Selasa (25/6/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara, pasar obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup