Kekhawatiran Perdagangan dan Geopolitik Tekan Bursa Asia

Bursa saham Asia tergelincir pada Jumat (21/6/2019), karena ketegangan AS dan Iran dan kecemasan atas pembicaraan China-AS membuat pasar berjuang untuk menyeimbangkan euforia di Wall Street atas kemungkinan penurunan suku bunga AS bulan depan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Juni 2019  |  15:23 WIB
Kekhawatiran Perdagangan dan Geopolitik Tekan Bursa Asia
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia tergelincir pada Jumat (21/6/2019), karena ketegangan AS dan Iran dan kecemasan atas pembicaraan China-AS membuat pasar berjuang untuk menyeimbangkan euforia di Wall Street atas kemungkinan penurunan suku bunga AS bulan depan.

Ketakutan akan konfrontasi militer di Teluk Timur Tengah meningkat setelah Iran menembak jatuh sebuah drone militer AS.

New York Times melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menyetujui serangan militer pada hari Jumat terhadap Iran sebagai pembalasan, namun menahan diri untuk tidak meluncurkan serangan segera.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang kehilangan 0,15 persen. Indeks masih naik hampir 4 persen sepanjang pekan ini, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 8 Mei.

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang melemah masing-masing 0,9 persen dan 0,95 persen, indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,27 persen, sedangkan indeks Hang Seng melemah 0,38 persen.

Di sisi lain, indeks Shanghai Composite berakhir menguat 0,5 persen dan indeks blue-chip CSI 300 berakhir menguat 0,14 persen.

Indeks S&P 500 AS mencapai rekor tertinggi pada hari Kamis setelah The Fed mendorong harapan pemangkasan suku bunga bulan depan untuk mencegah perang perdagangan AS-China menghambat pertumbuhan ekonomi.

The Fed mengisyaratkan pelonggaran setelah kesimpulan dari pertemuan penetapan kebijakan pada hari Rabu, mengatakan siap untuk melawan risiko ekonomi global dan domestik yang tumbuh.

"Tidak ada keraguan bahwa hasil pertemuan FOMC minggu ini adalah positif untuk pasar keuangan termasuk di Asia," kata Kota Hirayama, ekonom pasar nergara berkembang senior di SMBC Nikko Securities, seperti dikutip Reuters.

"Namun, FOMC sendiri tidak akan mampu mempertahankan pasar saham Asia tanpa batas waktu sampai adanya sejumlah solusi untuk perang dagang AS-China di G20, karena wilayah tersebut sangat rentan terhadap konflik," lanjutnya.

Investor telah menaruh harapan pada rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G20 di Jepang pada 28-29 Juni mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Bursa Asia

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top