Masih Dibayangi Ketatnya Pasokan, Bijih Besi Sentuh Level Tertinggi

Bijih besi mencapai rekor level tertingginya pada perdagangan Kamis (20/6/2019) setelah Rio Tinto menurunkan pengiriman dari kawasan Pilbara, menunjukkan bahwa pasokan tetap ketat bahkan ketika Vale akan melanjutkan operasional tambang di Brucutu sepenuhnya.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  16:30 WIB
Masih Dibayangi Ketatnya Pasokan, Bijih Besi Sentuh Level Tertinggi
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Bijih besi mencapai rekor level tertingginya pada perdagangan Kamis (20/6/2019) setelah Rio Tinto menurunkan pengiriman dari kawasan Pilbara, menunjukkan bahwa pasokan tetap ketat bahkan ketika Vale akan melanjutkan operasional tambang di Brucutu sepenuhnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (20/6/2019) harga bijih besi di bursa Dalian bergerak menguat 1,69% menjadi 813,5 yuan per ton atau setara dengan US$118,68 per ton. Sepanjang tahun berjalan, harga bijih besi telah bergerak menguat 66,98%.

Pada pertengahan perdagangan, bijih besi sempat menyentuh level 837 yuan per ton, menjadi level tertingginya. Sementara itu, harga bijih besi di bursa Singapura bergerak menguat 3,4% menjadi US$111,70 per ton. Secara year to date harga bergerak menguat 54,02%.

Mengutip riset ANZ Research, kembalinya operasional penuh tambang Brucutu seharusnya dapat membantu meringankan kekhawatiran pasar terkait dengan ketatnya pasokan bijih besi.

"Namun, masalah operasional Rio Tinto menunjukkan bahwa pasar bijih besi masih memiliki beberapa tantangan ke depan,"ungkap ANZ melalui risetnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (20/6/2019).

Adapun, penambang bijih besi raksasa, Rio Tinto, telah menurunkan target volume bijih besi yang diperkirakan dikirim dari kawasan produksi utama Pilbara, Australia untuk ketiga kalinya sejak April tahun ini dengan alasan masalah operasional.

Rio Tinto mengharapkan pengiriman bijih besi dari kawasan Pilbara berada di kisaran 320 juta ton hingga 330 juta ton, yang sebagian besar merupakan produk kelas bawah bermargin rendah. Padahal, target sebelumnya berada di kisaran 333 juta ton hingga 342 juta ton.

Pemotongan target volume tersebut diumumkan hanya beberapa jam setelah penambang bijih besi terbesar di dunia asal Brazil, Vale SA, mengatakan bahwa pihaknya akan sepenuhnya melanjutkan operasional tambang Brucutu dalam kurun waktu 72 jam mendatang.

Sebagai informasi, Brucutu sebelumnya hanya beroperasi sepertiga dari kapasitas produksinya karena ditutup pada Februari lalu terkait dengan kecelakaan maut di wilayah tambang Vale lainnya sehingga membuat seluruh tambang milik Vale diawasi ketat oleh pihak yang bertanggung jawab.

Akibatnya, pasokan bahan baku pembuatan baja semakin terbatas di saat pabrik baja China terus meningkatkan produksi. Hal tersebut lah yang membuat harga terus mengalami reli hingga saat ini.

Di sisi lain, harga baja rebar di bursa Shanghai bergerak menguat 1,01% menjadi 3.800 yuan per ton, sedangkan harga Hot-Rolled Coil bergerak menguat 1,26% menjadi 3.683 yuan per ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bijih besi, ekspor bijih besi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup