Proyek Infrastruktur Kelar, Saham Emiten Konstruksi Menjanjikan

Beberapa perusahaan konstruksi akan mencatat kinerja positif sepanjang tahun, khususnya bagi perseroan yang memiliki beragam bisnis atau tidak hanya fokus mengerjakan proyek jalan.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  15:06 WIB
Proyek Infrastruktur Kelar, Saham Emiten Konstruksi Menjanjikan
Kendaraan melintas di jalan tol Pejagan-Pemalang, Brebes Timur, Jawa Tengah, Kamis (9/5/2019). - ANTARA/Oky Lukmansyah

Bisnis.com, JAKARTA – Empat tehun terakhir pemerintah cukup kencang membangun infrastruktur seperti jalan, jalan tol, bandara, pelabuhan dan bendungan. Berbagai proyek pembangunan yang sempat tertunda atau belum selesai pun akan akan dilanjutkan hingga akhir tahun.

Anggaran untuk belanja infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sepanjang 2019 mencapai Rp 415 triliun, naik dibanding alokasi belanja tahun lalu yang tercatat sebesar Rp410,7 triliun.

Alokasi anggaran ini akan dipakai untuk membangun/rekonstruksi/pelebaran 2.007 km jalan, pembangunan 4 bandara baru, pembangunan dan rehabilitasi jembatan sepanjang 27.067 m, pembangunan/penyelesaian rel kereta api sepanjang 415,2 km, untuk membangun 48 bendungan dan jaringan irigasi bagi 162.000 ha sawah.  

Masih bergulirnya pembangunan infrastruktur menjadi harapan bagi sejumlah perusahaan konstruksi di tanah air, setelah sebelumnya sektor konstruksi sempat mengalami tekanan akibat pelemahan nilai tukar dan pengetatan likuiditas, yang berdampak pada harga saham beberapa perusahaan konstruksi.

Menurut analis Bahana Sekuritas Anthony Yunus, beberapa perusahaan konstruksi akan mencatat kinerja positif sepanjang tahun, khususnya bagi perseroan yang memiliki beragam bisnis atau tidak hanya fokus mengerjakan proyek jalan.

“Sepanjang tahun ini, proyek jalan dan jalan tol yang akan diselesaikan tidak banyak, untuk Jawa tinggal beberapa ruas, dan melanjutkan pembangunan ruas trans Sumatera,” papar Anthony dalam risetnya, Jumat (17/5/2019).

Bagi perusahaan yang tidak hanya fokus pada pembangunan jalan, atau memiliki diversifikasi bisnis yang lebih beragam, tentunya masih akan bisa mengantongi margin dari bisnis properti dan lainnya, tambahnya.

Bahana menaikkan rekomendasi ‘Beli’ untuk saham PT Wijaya Karya (WIKA), dengan target harga Rp 2.450/saham. Pasalnya, perusahaan pelat merah ini memiliki bisnis yang lebih beragam dibanding perusahaan konstruksi lainnya.

Managemen WIKA juga sudah melakukan langkah antisipasi dengan melakukan investasi di berbagai proyek konstruksi sekitar 5-7 tahun lalu, yang bakal menuai keuntungan pada tahun ini.

Perusahaan disebut banyak melakukan investasi di proyek jalan tol dan power plant, yang kepemilikannya siap untuk dijual, plus memiliki bisnis mulai dari properti, beton, energi dan gedung, sehingga saat pembangunan jalan mulai sepi, perseroan masih bisa mengantongi margin dari bisnis lainnya.

Tahun ini, WIKA juga diuntungkan karena sudah ada kepastian atas proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau dikenal dengan Jakarta-Bandung High Speed Rail (HRS), yang juga terlibat untuk pembangunan Mass Rapid Transportation (MRT) phase 2 serta Light Rail Transit (LRT) Jakarta. 

Bahana memperkirakan sepanjang 2019, WIKA akan mengantongi kenaikan order baru sekitar 10 persen – 15 persen, dengan nilai kontrak baru diperkirakan sebesar Rp 52,95 triliun. Dengan begitu, pendapatan WIKA pada akhir 2019, diperkirakan naik sekitar 48 persen, secara tahunan menjadi Rp 44,22 triliun, dan laba bersih diperkirakan naik sekitar 27 persen, secara tahunan menjadi Rp 2,16 triliun.    

PTPP

Sementara itu, rekomendasi ‘Hold’ diberikan untuk saham PT Pembangunan Perumahan Tbk., dengan target harga Rp 2.150.

Pada tahun ini, managemen perseroan berupaya untuk melakukan keseimbangan atas kapasitas perusahaan yang tercermin pada rasio pinjaman terhadap modal sendiri, atau yang lebih dikenal dengan gearing ratio sebesar 40 persen, sehingga perusahaan masih memiliki kemampuan untuk membiayai proyek baru.

Menurut Bahana, perusahaan berkode saham PTPP ini termasuk konservatif dalam mengambil proyek-proyek yang akan dikerjakan, atau lebih fokus mengerjakan proyek yang pembayarannya lebih pasti dan lebih cepat.

PTPP memperkirakan mampu mengantongi kenaikan order baru sepanjang 2019, sebesar 16 persen, atau secara nominal diperkirakan mencapai Rp 41,82 triliun. Dengan perkiraan kenaikan total pendapatan sekitar 11 persen, menjadi Rp 28,12 triliun dan laba bersih diperkirakan naik sekitar 5 persen, menjadi Rp 1,58 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
infrastruktur, wika, ptpp

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top