Obligasi Seri Tenor Pendek dan Menengah Jadi Pilihan Investasi Usai Pemilu

Seri-seri obligasi tenor pendek dan menengah dapat menjadi pilihan utama investor tahun ini untuk mengantisipasi potensi turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia karena merespons pendirian dovish The Fed.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 23 April 2019  |  08:45 WIB
Obligasi Seri Tenor Pendek dan Menengah Jadi Pilihan Investasi Usai Pemilu
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Seri-seri obligasi tenor pendek dan menengah dapat menjadi pilihan utama investor tahun ini untuk mengantisipasi potensi turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia karena merespons pendirian dovish The Fed.

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), mengatakan bahwa secara umum pihaknya memberikan pandangan positif bagi kinerja pasar obligasi tahun ini.

Setelah The Fed menunjukkan pendirian dovish, peluang bagi dimulainya era penurunan suku bunga menjadi terbuka, termasuk suku bunga Bank Indonesia. Hal ini didukung pula oleh data-data ekonomi domestik, seperti inflasi, defisit neraca berjalan, dan kurs rupiah yang cenderung stabil dan suportif.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga BI ini sudah tercermin pula pada pergerakan imbal hasil obligasi tenor pendek yang membentuk pola bull steepening. Imbal hasil obligasi tenor pendek turun lebih cepat dibandingkan dengan tenor panjang.

Hal ini menyebabkan selisih imbal hasil obligasi tenor pendek dan panjang kembali ternormalisasi ke kisaran 50 basis poin dari sebelumnya yang sempat ketat pada kisaran 10 basis poin. Bila BI benar-benar merealisasikan penurunan suku bunga acuan tahun ini, efeknya sangat positif bagi pasar obligasi.

Atas dasar itu, Ezra memberikan outlook tactical overweight pada pasar obligasi tahun ini dengan fokus strategi portfolio pada instrumen-instrumen obligasi negara bertenor pendek dan menengah.

“Efeknya akan positif untuk seluruh pasar, baik itu tenor pendek, menengah dan panjang. Namun, kalau terjadi penurunan suku bunga, durasi yang pendek akan lebih dahulu naik harganya, baru disusul yang lebih panjang,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (22/4/2019).

Saat ini, MAMI memiliki dua produk reksa dana pendapatan tetap, yakni pertama, Manulife Pendapatan Bulanan II yang fokus pada instrumen obligasi tenor pendek, khususnya tenor 2 tahun. Insutruman kedua yakni Manulife Obligasi Negara Indonesia II dengan instrumen bertenor sekitar 6 tahun.

Ezra mengatakan, obligasi tenor pendek yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga sudah akan bergerak lebih dahulu dengan besaran penurunan imbal hasil sesuai dengan besarnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan.

Awalnya kurva imbal hasil akan membentuk pola bull steepening, yakni imbal hasil obligasi tenor pendek turun lebih cepat dibandingkan obligasi tenor panjang.

Namun, kemudian akan membentuk pola bull flattening, di mana imbal hasil obligasi tenor panjang turun lebih cepat dibandingkan dengan obligasi tenor pendek sehingga membentuk kurva imbal hasil yang lebih mendatar.

Potensi penguatan pasar obligasi juga didukung oleh sejumlah faktor lain, seperti risiko suplai yang berkurang pada kuartal II/2019, arus masuk dana asing yang kemungkinan meningkat, serta redanya sentimen politik dari pilpres.

Risiko suplai yang minim terlihat dari realisasi penerbitan baru surat berharga negara (SBN) yang sudah mencapai 40% dari target. Jika penerbitan sukuk negara sesuai dengan target, maka penerapan surat utang negara (SUN) setiap lelang hanya sekitar Rp15 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan kuartal I/2019 yang sekitar Rp20 – Rp22 triliun.

Selain itu, peluang pemangkasan suku bunga global akan meningkatkan daya tarik instrumen keuangan negara berkembang, sehingga arus masuk investasi berpotensi meningkat.

Alhasil, pelemahan rupiah yang biasanya terjadi pada kuartal kedua akibat repatriasi dividen dan impor Lebaran akan tertahan menjadi lebih stabil. Arus masuk ini juga dapat membantu menurunkan defisit neraca berjalan.

Sementara itu, hilangnya ketidakpastian politik setelah pemilu berakhir juga akan meningkatkan kepercayaan diri investor, baik global maupun lokal, untuk kembali masuk ke pasar obligasi dalam negeri. Apalagi, hasil hitung cepat menunjukkan petahana unggul sehingga risiko perubahan kebijakan menjadi minim.

“Sejauh ini target obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun masih berada di kisaran 7,0% – 7,5% dan target ini masih bisa direvisi turun jika BI melakukan pemangkasan suku bunga,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara, pasar obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top