Risiko Suplai Pasar Obligasi Relatif Rendah di Kuartal II/2019

Manulife Asset Management Indonesia menilai risiko suplai pasar obligasi pada kuartal kedua tahun ini relatif minim, sehingga akan memberikan dampak positif bagi kinerja pasar secara umum.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 22 April 2019  |  13:50 WIB
Risiko Suplai Pasar Obligasi Relatif Rendah di Kuartal II/2019
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA — Manulife Asset Management Indonesia menilai risiko suplai pasar obligasi pada kuartal kedua tahun ini relatif minim, sehingga akan memberikan dampak positif bagi kinerja pasar secara umum.

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, mengatakan bahwa secara umum dua faktor penting bagi pergerakan pasar obligasi adalah siklus suku bunga dan mekanisme dari sisi supply dan demand.

Dari sisi suku bunga, kondisinya cukup kondusif dan potensial. The Fed semakin dovish dan ini membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk melakukan pemangkasan suku bunga lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan, selama data-data ekonomi dalam negeri seperti inflasi, defisit neraca berjalan, serta nilai tukar rupiah cenderung stabil dan suportif.

Jika ditelaah dari faktor kedua yaitu permintaan dan penawaran, sejauh ini total penerbitan SBN sudah mencapai 40% dari targetnya.

Artinya jika penerbitan SBSN (sukuk) sesuai dengan target, maka penyerapan SBN dalam setiap lelang hanya sekitar Rp15 triliun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kuartal pertama 2019 di kisaran Rp20-22 triliun. “Artinya kondisi dari sisi permintaan dan penawaran di kuartal kedua ini pun sangat kondusif dan potensial,” katanya melalui riset, Selasa (22/4/2019).

Di lain pihak, secara musiman kuartal kedua setiap tahun adalah masa-masa pelemahan nilai tukar rupiah. Sentimen ini juga tentu akan mempengaruhi dinamika pasar obligasi.

Ezra mengatakan. secara historis di kuartal kedua nilai tukar rupiah cenderung melemah dipengaruhi oleh faktor musiman seperti repatriasi dividen dan meningkatnya impor jelang Lebaran.

“Namun, selama defisit neraca berjalan dapat dijaga, kami perkirakan sentimen terhadap nilai tukar rupiah tidak akan terlalu buruk,” katanya.

Salah satu faktor yang dapat ‘membiayai’ defisit pada neraca berjalan adalah arus dana masuk pada pasar finansial. Dengan demikian, diharapkan perbaikan sentimen pada negara berkembang dan peluang pemangkasan suku bunga dapat mendorong arus dana masuk ke pasar finansial Indonesia. Hal ini pada akhirnya dapat membantu menurunkan defisit pada neraca berjalan.

Di samping itu pemilu yang berlangsung kondusif juga dapat mendorong penguatan pada nilai tukar rupiah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara, pasar obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup