Mirae Asset Sekuritas : Pergerakan Seri Acuan SUN Masih Akan Terbatas

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa meski secara umum diproyeksi positif/menguat, pergerakan harga SUN utamanya seri benchmark tampaknya masih terbatas hari ini, Selasa (16/4/2019).
Emanuel B. Caesario | 16 April 2019 08:50 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA—Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa meski secara umum diproyeksi positif/menguat, pergerakan harga SUN utamanya seri benchmark tampaknya masih terbatas hari ini, Selasa (16/4/2019).

Dhian Karyantono, analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa sentimen yang berasal dari global, berdasarkan perkembangan pasar modal global semalam, tampaknya cenderung memberikan dampak positif bagi pergerakan harga SUN hari ini.

Hal tersebut, tercermin dari pergerakan Indeks dolar AS yang turun tipis pada kisaran 96,91 poin (sebelumnya 96,96 poin), sedangkan yield US Treasury 10 tahun turun ke kisaran 2,55% dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya pada kisaran 2,57%.

Selain itu, katalis dari kondisi ekonomi domestik juga cenderung positif setelah data neraca dagang per Maret 2019 mencatatkan surplus dengan besaran sebesar US$0,54 miliar atau di luar ekspektasi pasar (konsensus Bloomberg) yang memprediksi terjadi defisit sebesar US$0,18 miliar.

Surplus neraca dagang domestik bulan lalu, pada akhirnya menurunkan kekhawatiran pasar terkait dengan melebarnya defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal awal tahun ini yang pada akhirnya meningkatkan ekspektasi pasar terhadap  penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada tahun ini.

Meski sentimen global dan domestik cenderung positif, tetapi kekhawatiran pasar atau aksi wait and see investor terhadap sentimen dari hasil Pilpres 2019 kemungkinan masih akan membatasi pergerakan harga SUN di pasar sekunder utamanya seri SUN benchmark.

Hal tersebut, tercermin pada kondisi perdagangan SUN di pasar sekunder kemarin di mana meski mendapatkan katalis positif dari surplus neraca dagang domestik, tetapi nominal transaksi obligasi pemerintah turun menjadi hanya sebesar Rp10,87 triliun dibandingkan dengan nominal transaksi akhir pekan lalu sebesar Rp13,62 triliun.

Selain itu, frekuensi transaksi obligasi pemerintah di pasar sekunder juga mengalami hal yang sama yaitu turun menjadi sejumlah 692 kali transaksi perdagangan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya sejumlah 859 kali frekuensi perdagangan.

Dhian mengatakan, secara umum, pihaknya melihat bahwa pergerakan harga SUN di pasar sekunder pasca Pilpres 2019 tampaknya masih akan positif setidaknya hingga akhir April 2019 apalagi didukung dengan surplus neraca dagang domestik per Maret 2019. 

Meski demikian, terdapat potensi katalis negatif bagi harga SUN yang berasal dari proyeksi melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok per kuartal I-2019 (rilis esok hari). 

"Dengan beberapa dasar tersebut, kami merekomendasikan investor untuk fokus pada perdagangan seri benchmark FR0077, FR0078, dan FR0068 dengan aksi hold hingga jual hari ini," katanya dalam riset harian, Selasa (16/4/2019).

Sementara itu, untuk investasi jangka panjang, Dhian masih merekomendasikan investor untuk beli seri FR0059, FR0058, FR0065, FR0075, FR0079, dan FR0076.

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri SUN yang likuid hari ini:

FR0063 (15 Mei 2023): 95,00 (7,05%) - 95,30 (6,96%)

FR0077 (15 Mei 2024): 104,10 (7,15%) - 104,50 (7,05%)
FR0064 (15 Mei 2028): 90,20 (7,64%) - 90,55 (7,58%)
FR0078 (15 Mei 2029): 104,05 (7,66%) - 104,55 (7,59%)
FR0065 (15 Mei 2033): 87,55 (8,12%) - 88,00 (8,06%)
FR0068 (15 Maret 2034): 102,50 (8,08%) - 103,20 (8,00%)
FR0075 (15 Mei 2038): 93,45 (8,18%) - 93,90 (8,13%)
FR0079 (15 April 2039): 101,60 (8,21%) - 102,15 (8,16%)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara, pasar obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup