Penjualan SBR006 Hanya Sedikit di Atas Target, Minat SBN Ritel Meningkat Usai Lebaran?

Penjualan instrumen surat berharga negara ritel seri-seri berbasis tabungan diperkirakan baru akan meningkat lagi setelah lebaran atau setelah masyarakat tidak lagi terlalu berfokus pada konsumsi.
Emanuel B. Caesario | 16 April 2019 07:25 WIB
Direktur Surat Utang Negara Kemenkeu Loto Srinaita Ginting (kanan) bersama SVP Wealth Management Bank Mandiri Elina Wirjakusuma (kiri) dan Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto (tengah) memberikan sosialisasi penjualan SBR006 kepada karyawan Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (9/4/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA—Penjualan instrumen surat berharga negara ritel seri-seri berbasis tabungan diperkirakan baru akan meningkat lagi setelah lebaran atau setelah masyarakat tidak lagi terlalu berfokus pada konsumsi.

Pemerintah akan menyelesaikan pemasaran seri saving bond retail SBR-006 har ini, Selasa (16/4) pukul 10.00 WIB. Berdasarkan data pemasaran di laman Investree.id hingga Senin (15/4/2019) pukul 18.30 WIB kemarin, total pembelian instrumen ini mencapai Rp2,07 triliun, sedikit di atas target indikatifnya Rp2 triliun. Data pemasaran sudah tidak dapat lagi diakses setelah pukul 19.00 WIB.

Kendati berhasil mencapai targetnya, tetapi realisasi pemasaran seri ini masih kalah dibandingkan seri sebelumnya yakni SBR-005 pada Januari 2019 yang senilai Rp4,01 triliun atau SBR-004 tahun lalu yang sebesar Rp7,32 triliun.

Capaian pemsaran seri ini juga turun dibandingkan versi syariahnya, yakni sukuk tabungan ST-002 tahun 2018 yang sebesar Rp4,94 triliun dan ST-003 pada Februari 2019 yang sebesar Rp3,13 triliun.

Data pemerintah menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu, pemesanan investor pada instrumen SBN ritel tabungan, baik SBR maupun ST, terus menunjukkan tren penurunan.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa penjualan sebesar Rp2 triliun bagi SBR-006 sudah cukup positif, meskipun turun dibandingkan seri terdahulu.

Seri SBN ritel tabungan memang kalah popular dibandingkan seri SBN ritel tradable atau yang dapat ditransaksikan di pasar sekunder, seperti obligasi ritel Indonesia (ORI) atau sukuk ritel (SR). Menurutnya, bila menimbang penerbitan yang sangat sering dan mepet waktunya, wajar bila pemasaran SBN ritel tabungan terus menurun.

Selain emisi yang sudah terlampaui sering, Ramdhan menilai dekatnya bulan puasa juga menyebabkan sebagian investor memilih menunda investasi untuk mempersiapkan peningkatan konsumsi saat ramadhan.

“Nanti setelah jeda penerbitan saat lebaran, konsentrasi masyarakat kemungkinan baru akan kembali ke investasi di SBN ritel ini,” katanya, Senin (15/4/2019).

Pemerintah memang akan melakukan jeda penerbitan pada Juni 2019 mendatang, setelah rutin menerbitkan SBN ritel tiap bulan selama Januari – Mei 2019. Bulan Mei 2019 mendatang, pemerintah akan memasarkan seri baru ST-004, lalu dilanjutkan bulan Juli 2019 dengan SBR-007.

Ramdhan mengatakan, turunya pemesanan SBR merupakan risiko yang harus ditanggung pemerintah karena memutuskan menerbitkan instrumen ini hampir tiap bulan. Namun, hal ini positif dan perlu dalam rangka edukasi untuk pendalaman pasar.

William Surya Wijaya, VP Research Indosurya Bersinar Sekuritas, mengatakan bahwa turunnya pemasanan SBR-006 sedikit banyak turut disebabkan oleh turunnya tingkat kupon. Instrumen ini ditawarkan dengan kupon 7,95%, lebih rendah dibandingkan SBR seri sebelumnya yang mencapai 8,15%.

Hal ini menyebabkan sebagian investor mulai melirik insturmen lain yang juga bisa menawarkan tingkat keuntungan yang cukup tinggi. Apalagi, SBR bersifat tidak likuid sebab harus disimpan hingga jatuh tempo dan hanya bisa dicairkan sebagian setelah satu tahun.

Namun, dengan capaian di atas Rp2 triliun menurutnya sudah cukup memuaskan, sebab yang disasar adalah insvestor ritel yang memiliki kecukupan dana investasi yang relatif terbatas dibandingkan investor institusi.

Investor ritel juga lebih banyak pertimbangannya sebelum memutuskan berinvestasi di satu instrumen tertentu.

“Orang juga mungkin masih tunggu kepastian yang akan terbentuk nantinya, sehingga mereka mungkin juga wait and see. Namun, tidak tertutup kemungkinan setelah itu mereka akan cukup optimis lagi dengan instrumen ini,” katanya.

Anup Kumar, Pengamat Pasar Fixed Income, sependapat bahwa rendahnya penyerapan SBR-006 kemungkinan besar disebabkan karena dana investor sudah banyak terserap di SR-011 bulan lalu yang tembus Rp21,12 triliun.

Namun, menurutnya rendahnya penjualan SBR-006 tidak otomatis berarti instrumen ini mulai kekurangan peminat. Penyebab utamanya kemungkinan karena ketersediaan dana investasi investor yang kian terbatas karena rutinnya emisi SBN ritel selama ini.

Kemungkinan lainnya, investor kini tengah mengalokasikan dananya untuk kebutuhan lain, seperti konsumsi atau pengembangan usaha.

“Jadi, apakah instrumen ini jelek? Saya kira tidak. Hanya saja mungkin karena seri yang diterbitkan bannyak, investor jadi membagi-bagi dananya ke setiap instrumen. Investor jadi punya pilihan kapan masuk dan kapan tidak, kapan ditempatkan di sini dan kapan di tempat lain,” katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, sbn, SBR006

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup