Jelang Pemilu, Bank Commonwealth Rekomendasikan Reksa Dana Saham

Bank Commonwealth masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama pada April ini karena potensi imbal hasilnya yang lebih menarik dibandingkan dengan reksa dana lainnya.
Riendy Astria | 10 April 2019 15:02 WIB
Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya (kanan) berbincang dengan Executive Director Charta Politika Yunarto Wijaya (kiri), dan CEO Schroders Indonesia Michael Tjoajadi saat peluncuran aplikasi CommBank SmartWealth, di Jakarta, Kamis (17/1/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Commonwealth masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama pada April ini karena potensi imbal hasilnya yang lebih menarik dibandingkan dengan reksa dana lainnya.

Adapun, pasar saham Indonesia tercatat mengalami kenaikan Maret 2019 sebesar 0,39% setelah sebelumnya terkoreksi pada Februari 2019.

Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya  mengatakan bahwa sejak Maret 2019, investor global kembali melihat emerging market sebagai tujuan investasi, seiring dengan data indikator ekonomi yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, terutama dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi negara maju tersebut disebabkan oleh keyakinan pelaku usaha yang melemah, ekspor yang menurun, masalah Brexit yang masih belum selesai di Eropa, dan belum meredanya ketegangan hubungan dagang antara AS dan China.

Dari dalam negeri, senada dengan keputusan The Fed, Bank Indonesia (BI) kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo di angka 6,0%, dengan mempertimbangkan inflasi, pertumbuhan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi domestik, dan nilai tukar rupiah.

Menurutnya, pada April 2019, investor asing akan mencermati pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia. Ada beberapa kemungkinan, salah satunya investor asing akan coba mengambil langkah awal terlebih dahulu atau mungkin juga masih wait and see hingga hasil Pemilu keluar.

Namun, berdasarkan data historis pada tiga pemilu sebelumnya, pasar saham Indonesia menghasilkan return yang positif dalam jangka waktu 6 bulan setelah pelaksanaan Pemilu. Enam bulan setelah Pemilu 2004, IHSG naik sebesar 41%, sementara di tahun 2009 enam bulan setelahnya naik sebesar 25%, dan di tahun 2014 IHSG mencatatkan return sebesar 4%.

“Dalam menentukan apakah pasar saham suatu negara akan positif atau tidak, data historis memang dapat dijadikan acuan, namun ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti hasil laporan keuangan emiten, fundamental ekonomi, serta iklim investasi suatu negara,” katanya melalui keterangan resmi, Rabu (10/4/2019).

Ivan melanjutkan, berdasarkan data Bloomberg, laporan keuangan emiten Indonesia sepanjang 2018 masih tercatat positif. Kemudian, secara fundamental, ekonomi Indonesia juga masih masuk kategori baik, ditambah dengan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga iklim ekonomi yang kondusif adalah bahan bakar untuk pertumbuhan ekonomi 2019 yang diprediksi ada di kisaran 5,0%-5,4%.

Ditambah faktor eksternal, dengan kondisi tahun 2019 ekonomi negara maju diperkirakan akan melambat, sedangkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang masih stabil akan menjadi umpan yang menarik bagi Investor asing untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia.

 “Dengan melihat pertumbuhan ekonomi yang umumnya bergerak positif ke pertumbuhan pasar saham, untuk investasi yang sifatnya jangka menengah – panjang (minimal 1 tahun), kami lebih melihat reksa dana saham sebagai pilihan utama dengan mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio. Karena di tahun 2019 ini, potensi kenaikan saham lebih menarik dibandingkan dengan aset kelas lainnya,” jelas Ivan.

 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
commonwealth bank, reksa dana, bank commonwealth

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup