Nilai Tukar Emerging Market Lewatkan Momentum

Sepanjang tahun berjalan ini telah menjadi momentum yang baik bagi pergerakan aset berisiko, mulai dari saham hingga kredit. Namun, sayang momentum tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh aset berisiko emerging market, terutama mata uang.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 April 2019  |  16:20 WIB
Nilai Tukar Emerging Market Lewatkan Momentum
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Sepanjang tahun berjalan ini telah menjadi momentum yang baik bagi pergerakan aset berisiko, mulai dari saham hingga kredit. Namun, sayang momentum tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh aset berisiko emerging market, terutama mata uang.

Beberapa manager keuangan saat ini masih menekankan adanya risiko yang lebih besar terhadap perlambatan ekonomi global.  Fakta bahwa sebagian besar nilai tukar emerging market telah bergerak sideways sejak akhir Januari menunjukkan kekhawatiran yang berkelanjutan terhadap laju pertumbuhan global.

Pergerakan nilai tukar emerging market tersebut terjadi bahkan ketika pasar ekuitas secara global mencetak kinerja yang cukup bagus pada kuartal pertama tahun ini.

Padahal, kenaikan apa pun dalam nilai tukar emerging market dapat menjadi pertanda baik bahwa selera investor global terhadap aset berisiko secara keseluruhan benar-benar kembali dalam laju bullish.

Head of Emerging-Market Debt JPMorgan Asset Management di London Pierre-Yves Bareau mengatakan bahwa setidaknya terdapat dua tantangan terbesar untuk pergerakan mata uang emerging market.

"Pertama, adalah dolar AS yang dinilai masih cenderung bergerak kuat. Kedua, pasar masih perlu melihat adanya pertumbuhan yang cukup signifikan pada ekonomi negara emerging market," ujar Pierre seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (9/4/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, imbal hasil terendah yang dihasilkan oleh aset berisiko di emerging market adalah pasar mata uang yang hanya mencapai 1,8% sepanjang tahun berjalan.

Sementara itu, aset berisiko yang menduduki posisi kinerja imbal hasil terbaik dalam pasar emerging market sepanjang tahun berjalan adalah pasar saham yang mencapai 12,71%.

Head of Emerging-Market Fixed Income Strategy Citigroup Global Markets di New York Dirk Willer secara khusus menyalahkan kawasan eropa atas terbatasnya laju pergerakan nilai tukar emerging market.

"Euro yang lemah telah menahan reli dalam sejumlah mata uang lainnya terhadap dolar AS. Perlambatan ekonomi China juga menjadi hambatan," ujar Dirk.

Dirinya mengharapkan adanya perubahan data ekonomi zona eropa sehingga pesimisme pasar terhadap euro dapat segera memudar dan membantu mendorong nilai tukar emerging market.

Namun, sesungguhnya dolar memiliki prospek yang lebih buruk pada tahun ini seiring dengan The Fed yang akan lebih bersabar dalam menaikkan suku bunganya dan tidak begitu agresif seperti tahun lalu.

Sentimen dolar AS yang melemah seharusnya dapat membuat nilai tukar emenrging market memiliki prospek yang baik.

Ahli Strategi Mata Uang Morgan Stanley yang dipimpin oleh Hans Redeker dalam risetnya mengatakan, terlepas dari tanda-tanda yang berkembang bahwa nilai tukar emerging market akan naik dan dolar AS melemah, investor tampaknya lebih berhati-hati.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (9/4/2019), mayoritas nilai tukar emerging market berhasil rebound seiring dengan dolar AS yang melemah.

Mata uang Brazil, real, bergerak menguat 0,58% menjadi 3,85 real per dolar AS. Dolar Singapura juga menguat 0,10% menjadi 1,35 dolar Singapura per dolar AS. Sementara itu, rupiah juga menguat 0,21% menjadi Rp14.137,5 per dolar AS.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mata uang, emerging market

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top