Optimisme Perundingan Dagang AS-China Dongkrak Wall Street

Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berhasil menguat pada akhir perdagangan Kamis (28/3/2019), didorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dari level terendahnya dalam 15 bulan dan optimisme investor seputar perundingan perdagangan AS-China.
Renat Sofie Andriani | 29 Maret 2019 06:49 WIB
Bursa saham AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berhasil menguat pada akhir perdagangan Kamis (28/3/2019), didorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dari level terendahnya dalam 15 bulan dan optimisme investor seputar perundingan perdagangan AS-China.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,36% atau 10,07 poin di level 2.815,44, indeks Nasdaq Compositenaik 0,34% atau 25,79 poin di level 7.669,17, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir menguat 0,36% atau 91,87 poin di level 25.717,46.

Sejumlah pejabat senior AS tiba di Beijing pada Kamis (28/3) untuk mengadakan putaran baru perundingan perdagangan. Perundingan ini akan diikuti dengan agenda putaran perundingan berikutnya di Washington pekan depan.

Saham industri yang sensitif terhadap isu perdagangan pun naik 0,8% dan berada di antara sektor-sektor dengan kinerja terbaik pada sesi perdagangan Kamis.

Pada Rabu (27/3), sejumlah pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa China telah menyusun proposal tentang berbagai masalah, termasuk transfer teknologi secara paksa, seiring dengan upaya kedua negara mengatasi permasalahan yang tersisa untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang dagang.

Sementara itu, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun patokan naik dari posisi terendahnya dalam 15 bulan. Akan tetapi kurva imbal hasil antara obligasi bertenor tiga bulan dan 10 tahun tetap berinversi.

Jika terus berlanjut, kurva imbal hasil yang berinversi dapat menunjukkan kemungkinan terjadinya resesi dalam satu hingga dua tahun.

Di sisi lain, penguatan ketiga indeks saham tersebut dibatasi oleh kekhawatiran tentang data ekonomi. Ekonomi domestik melambat lebih dari yang diperkirakan pada kuartal keempat, sekaligus mempertahankan pertumbuhan 2018 di bawah target tahunan 3%.

Adapun laba perusahaan gagal mencatat kenaikan untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi mulai menghantam pasar pekan lalu setelah bank sentral AS Federal Reserve menanggalkan proyeksi kenaikan suku bunga tahun ini dan kurva imbal hasil obligasi AS berinversi untuk pertama kalinya sejak 2007.

Meski menyambut sikap dovish The Fed, para investor kini menjadi lebih khawatir tentang melemahnya kinerja keuangan perusahaan dan prospek ekonomi.

“Tiba-tiba kita sudah mulai mencermati apakah ini adalah akhir dari siklus. Jawaban saya adalah, ini bukan akhir dari siklus untuk pasar saham atau pun ekonomi, tetapi tidak banyak yang tersisa,” ujarHugh Johnson, chief investment officer Hugh Johnson Advisors LLC. di Albany, New York.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wall street

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup