Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HPP Gula Akan Dikerek, Ini Respons Emiten Mamin

Rencana pembahasan kenaikan harga pokok pembelian gula petani oleh Presiden Joko Widodo dalam sepekan ke depan bakal berdampak pada beban biaya produksi emiten makanan dan minuman sehingga berpotensi menekan margin perseroan.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 08 Februari 2019  |  10:22 WIB
HPP Gula Akan Dikerek, Ini Respons Emiten Mamin
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana pembahasan kenaikan harga pokok pembelian gula petani oleh Presiden Joko Widodo dalam sepekan ke depan bakal berdampak pada beban biaya produksi emiten makanan dan minuman sehingga berpotensi menekan margin perseroan.

Salah satu industri makanan minuman yang dapat terkena dampak yakni PT Mayora Indah Tbk.

Sekretaris Perusahaan Mayora Indah Yuni Gunawan mengatakan, perseroan menggunakan gula rata-rata sebanyak 12%-15% dari keseluruhan bahan baku produksi.

Jika ada kenaikan harga gula hingga 5%, maka dapat berdampak ke beban pokok penjualan sebesar 0,5%-0,7%.

Dengan begitu, rencana kenaikan harga gula dapat menambah beban biaya produksi perseroan. Sejalan dengan itu, marjin perseroan dapat tertekan. Per 30 September 2018, emiten dengan kode saham MYOR mencatatkan gross profit margin sebesar 25,93%.

"Pemakaian gula rata-rata berkisar dari 12% - 15%. Jadi kalau ada kenaikan gula sampai 5% akan berdampak 0,5% sampai 0,7% pada harga pokok," katanya pada Kamis (7/2/2019).

Sementara itu, PT Kino Indonesia Tbk. meyakini rencana kenaikan harga pokok pembelian gula petani tidak signifikan menambah beban biaya produksi. Sebab, kontribusi gula terhadap total bahan baku kecil.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Kino Indonesia Budi Muljono mengatakan, kontribusi gula terhadap harga pokok penjualan sekitar 5%. Sebab, penjualan emiten dengan kode saham KINO itu didominasi oleh segmen personal care dan minuman Cap Kaki Tiga yang tidak menggunakan gula.

Menurutnya, rencana penaikan harga pokok pembelian gula petani memang akan berdampak terhadap beban biaya produksi, tetapi tidak signifikan. Sebab, kontribusi terhadap harga pokok penjualan hanya sekitar 5%.

Dia mengatakan, perseroan tetap dapat menjaga margin di tengah rencana tersebut. Sebagai informasi, gross profit margin (GPM) perseroan sebesar 45,56%.

"Kontribusi gula terhadap COGS [cost of goods sold] kami itu di sekitar 5%. Ada dampak tapi tidak signifikan," katanya pada Kamis (7/2/2019).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mayora indah kinerja emiten kino indonesia
Editor : Ana Noviani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top