Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Harga Karet

Harga karet berhasil rebound dari pelemahannya dan berakhir di zona positif pada perdagangan hari ini, Jumat (1/2/2019), di tengah meningkatnya daya tarik aset berisiko.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 01 Februari 2019  |  15:17 WIB
Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Harga Karet
Pekerja mengumpulkan hasil sadapan getah karet di perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX di Ngobo, Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (27 - 3).Antara/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet berhasil rebound dari pelemahannya dan berakhir di zona positif pada perdagangan hari ini, Jumat (1/2/2019), di tengah meningkatnya daya tarik aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Juli 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup menguat 0,67% atau 1,20 poin di level 179 yen per kg, setelah berakhir melorot 1,06% di posisi 177,80 pada Kamis (31/1/2019).

Harga karet sempat melanjutkan pelemahannya ketika dibuka turun 0,11% atau 0,20 poin di posisi 177,60 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, harga karet bergerak di level 179,10–180,00.

Dilansir dari Bloomberg, harga karet menguat seiring dengan meningkatnya daya tarik untuk aset berisiko yang didorong optimisme soal perundingan perdagangan Amerika Serikat (AS)-China serta prospek penaikan suku bunga yang dovish oleh bank sentral AS Federal Reserve.

Dalam pertemuan kebijakan (FOMC meeting) selama dua hari yang berakhir pada Rabu (30/1/2019), The Fed memutuskan mempertahankan tingkat suku bunganya di 2,25%-2,50% dan berjanji akan bersabar dalam hal penaikan biaya pinjaman lebih lanjut.

The Fed juga bergeser ke sikap yang lebih dovish terkait pelepasan aset yang sedang berlangsung, dengan menyatakan siap untuk menyesuaikan rencananya berdasarkan perkembangan ekonomi dan keuangan.

Di sisi lain, China berjanji untuk memperbesar pembelian barang-barang dari Amerika Serikat (AS) setelah putaran perundingan terbaru antara kedua negara berakhir di Washington.

Kantor berita Xinhua hari ini melaporkan bahwa China setuju untuk meningkatkan impor produk-produk dan jasa pertanian, energi, maupun industri AS, meskipun tidak ada detail lebih lanjut mengenai produk dan jasa yang dimaksud.

Baik AS maupun China menyatakan telah membuat kemajuan dalam perundingan perdagangan yang telah berlangsung selama dua hari terakhir di Washington dan sepakat untuk bertemu kembali di Beijing.

“Pelaku pasar sedang dalam sentimen positif untuk aset berisiko dan itu mendorong harga naik,” ujar Naohiro Niimura, mitra di perusahaan riset Market Risko Advisory.

Dukungan lebih lanjut datang dari harga minyak mentah, yang telah melonjak lebih dari 25% dari level terendahnya pada Desember 2018, sehingga turut mendorong karet sintetis sebagai alternatif untuk karet alam menjadi lebih mahal.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2019 terpantau naik 0,17% ke level US$53,88 per barel pada pukul 14.34 WIB. Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman April 2019 naik 0,30% atau 0,18 poin ke level US$61,02 per barel.

Sejalan dengan karet di Tocom, harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 di Shanghai Futures Exchange berhasil rebound dari pelemahannya dan berakhir menguat 85 poin atau 0,75% di 11.410 yuan per ton.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Juli 2019 di Tocom

Tanggal                             

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan

1/2/2019

179,00

+0,67%

31/1/2019

177,80

-1,06%

30/1/2019

179,70

+1,58%

29/1/2019

176,90

-2,10%

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top