Kelanjutan Bisnis KBRI Masih Tunggu Investor Strategis

Keberlanjutan bisnis emiten kertas PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk. di tahun depan akan bergantung pada upaya penjajakan perseroan terhadap investor potensial atau rekan kerja sama strategis.
Dara Aziliya | 22 Desember 2018 10:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Keberlanjutan bisnis emiten kertas PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk. di tahun depan akan bergantung pada upaya penjajakan perseroan terhadap investor potensial atau rekan kerja sama strategis.

Berdasarkan catatan produksi perseroan, emiten dengan sandi KBRI tersebut terus mengalami penurunan produksi sejak 2015. Pada 2015, produksi perseroan tercatat masih 51.000 ton per tahun, namun pada tahun ini perseroan baru memproduksi 385 ton hingga September 2018.

Direktur Utama Kertas Basuki Rachmat Indonesia Henry Priyantoro menyampaikan sepanjang tahun ini perseroan menjajaki sejumlah calon investor dan rekan kerja sama. Beberapa yang telah penjajakan tersebut berasal dari dalam dan luar negeri.

“Sejak 2018 dan terus ke depannya, kami akan fokus pada strategic partner. Kami berharap ada rekan kerja sama yang memberikan nilai tambah pada perusaan kami. Misalnya mereka memiliki akses terhadap pasar atau sumber pembiayaan,” ungkap Henry di Jakarta, Jumat (21/12).

Henry menyampaikan saat ini diskusi dengan sejumlah investor tersebut sudah mulai mengerucut. Namun, dia tidak dapat memastikan kapan perseroan akan merampungkan perjanjian kerja sama tersebut karena kecepatan pembahasan yang bervariasi.

Perseroan sempat mengamankan kredit investasi berbentuk Term Loan Facility (TLF) senilai total US$45 juta dari Indonesia Eximbank dan QNB Kesawan pada 2014 lalu. Di tahun yang sama, perseroan juga mengantongi kredit modal kerja dalam bentu Revolving Credit Facility (RCF) senilai US$15 juta.

Alhasil perseroan mengantongi total US$60 juta pada 2015. Awalnya, perseroan mengantongi komitmen sebesar US$70 juta namun salah satu anggota sindikasi membatalkan komitmennya yang sebelumnya dijanjikan US$10 juta.

Perolehan kredit yang di bawah ekspektasi perseroan tersebut pun akhirnya menyulitkan perseroan karena instalasi pabrik hanya mencapai 90%. Dengan biaya bahan baku dan listrik yang membengkak, perseroan tidak dapat menanggulangi penurunan pendapatan.

“Kalau dengan kebutuhan saat ini, kami tidak bisa lagi beroperasi sampai break even point dengan US$10 juta, kebutuhan sekarang sudah lebih  tinggi.,” kata Henry.

Henry menyampaikan terkait kerja sama dengan investor strategis tersebut, perseroan membuka opsi-opsi berbagai bentuk kerja sama misalnya rental mesin, akuisisi, atau product sharing. Dengan beberapa skema kerja sama tersebut, perseroan membidik kerja sama yang memberikan benefit bagi kedua belah pihak.

Kertas Basuki Rachmat memiliki dua mesin dengan kapasitas masing-masing 10.000 ton dan 250.000 ton per tahun. Meski memiliki permintaan dari lokal dan domestik dan kapasitas yang mencukupi, perseroan tidak memiliki dana untuk operasional di level BEP.

Hingga 30 September 2018, perseroan membukukan pendapatan Rp1,83 miliar, tergerus 98,09% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, rugi perseroan membengkak 176,06% ke level Rp124,22 miliar.

Tag : kertas basuki
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top