Rupiah Melemah Tiga Hari Beruntun

Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ketiga berturut-turut, Kamis (6/12/2018), bersama dengan mayoritas mata uang di Asia.
Renat Sofie Andriani | 06 Desember 2018 19:48 WIB
Karyawan menghitung uang rupiah di sebuah money changer di Jakarta, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ketiga berturut-turut, Kamis (6/12/2018), bersama dengan mayoritas mata uang di Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir melemah 117 poin atau 0,81% di level Rp14.520 per dolar AS, setelah ditutup melemah 111 poin atau 0,78% di level Rp14.403 per dolar AS pada perdagangan Rabu (5/12).

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berlanjut ketika dibuka di level Rp14.483 per dolar AS dengan depresiasi 80 poin atau 0,56% pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.483 – Rp14.570 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah telah melorot hampir 2% dari apresiasi terakhirnya di level Rp14.244 per dolar AS pada perdagangan Senin (3/12), saat investor menjual aset-aset pasar negara berkembang (emerging market) di tengah kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan global dan tensi perdagangan AS-China yang berkelanjutan.

Nilai tukar rupiah, yang melonjak sekitar 6,3% pada November, telah terjungkal bahkan ketika Bank Indonesia (BI) menyatakan telah melakukan intervensi untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.

Nanang Hendarsah, direktur eksekutif untuk manajemen moneter di BI, mengatakan Bank Indonesia telah melakukan intervensi dalam mata uang dan pasar obligasi untuk mengurangi volatilitas.

“Bank Indonesia melihat depresiasi saat ini sebagai sementara, reaksi gelisah spontan untuk melakukan penjualan di pasar saham global,” ujar Nanang.

“Dengan turunnya imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun dan sikap Federal Reserve yang lebih dovish, aset-aset pasar negara berkembang akan tampil lebih menarik,” yakinnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Menurut Nick Twidale, chief operating officer di Rakuten Securities Australia, nilai tukar rupiah memiliki ruang untuk kembali ke level Rp15.000 per dolar AS.

“Laju pergerakannya telah sangat drastis dalam beberapa waktu terakhir sehingga dapat terjadi dalam beberapa pekan alih-alih bulan. Pasar masih sangat meresahkan isu-isu perdagangan di seluruh dunia, dan kita mungkin akan melihat lebih banyak volatilitas dalam mata uang ini.”

Rupiah telah menjadi salah satu korban paling terdampak dalam aksi jual yang telah melanda pasar negara berkembang mulai dari Turki hingga India tahun ini.

Investor telah menjual saham dan obligasi negara saat kenaikan suku bunga AS, imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi, dan penguatan dolar AS melemahkan permintaan untuk aset-aset berisiko.

Rupiah pun kembali membukukan pelemahan terdalam di antara mata uang lainnya di Asia hari ini. Pelemahannya diikuti yuan offshore China dan rupee India yang masing-masing terdepresiasi 0,65% dan 0,62%.

Sebaliknya, nilai tukar yen Jepang dan dolar Hong Kong mampu terapresiasi masing-masing sebesar 0,37% dan 0,01% terhadap dolar AS pada pukul 18.33 WIB.

Daya tarik yen, yang bersifat sebagai mata uang safe haven, meningkat setelah penangkapan Chief Financial Officer (CFO) Huawei Technologies Co. Meng Wanzhou, memicu kekhawatiran atas memburuknya konflik perdagangan AS-China sekaligus menjauhkan minat investor dari aset berisiko.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,047 poin atau 0,05% ke level 97,117 pada pukul 18.23 WIB.

Pergerakan indeks dolar sempat tergelincir ke zona merah saat dibuka turun 0,054 poin atau 0,06% di level 97,016, setelah pada perdagangan Rabu (5/12) berakhir menanjak 0,11% atau 0,105 poin di posisi 97,070.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top