Perang Dagang AS-China Berpotensi Untungkan Trader Komoditas

Perang dagang memberikan kesempatan untuk meraup keuntungan bagi komoditas dengan daya saing tinggi.
Mutiara Nabila | 16 Juli 2018 16:21 WIB
Karyawan mengamati Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), di galeri Bursa Bejangka Komoditi , Jakarta, Senin (15/5). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Perang dagang memberikan kesempatan untuk meraup keuntungan bagi komoditas dengan daya saing tinggi.

Trader masih memperkirakan potensi dampak dari pemberlakuan tarif Amerika Serikat dan China pada impor masing-masing senilai US$68 juta dan ancaman tarif lanjutan senilai US$200 miliar pada pembelian barang Paman Sam dari Beijing.

Pada sektor aluminium dan baja, tarif dari Trump pada beberapa waktu terakhir telah menumbuhkan ekspektasi akan kebangkitan produksi AS. Selain itu, sanksi terhadap perusahaan United Co. Rusal (Rusia) pada April lalu memicu lonjakan harga dan biaya aluminium di AS.

Chief Executive Officer Concord Resources Ltd. Mark Hansen mengatakan sanksi AS terhadap perusahaan pengolahan aluminium Rusia itu memberikan keuntungan pada perusahaan Castleton Commodities International LLC, yang telah menimbun logam tersebut terlebih dahulu.

“Ronde pertama dari kebijakan proteksionis AS masih cukup spesifik. Dari sudut pandang pebisnis komoditas justru membuka peluang baru,” katanya, dikutip dari Bloomberg, Minggu (15/7/2018).

Menurut dia, tarif tersebut justru menciptakan insentif, arbitrase, dan kesempatan untuk kembali berinvestasi di AS.

CEO Indonesia Commodity & Derivative Exchange atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia Lamon Rutten mengungkapkan bahwa di Indonesia, perang dagang AS dan China dinilai belum memberikan kerugian pada perdagangan komoditas.

“Perang dagang belum menimbulkan kerugian pada pasar Indonesia, misalnya timah, karena memang pasar Indonesia tidak masuk dan tidak terhubung dengan pasar di China atau AS,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (13/7).

Ramon mengatakan bahwa dengan perang dagang, Indonesia bisa menjadi pemasok alternatif dan meningkatkan harga timah Indonesia.

Adapun, komoditas minyak, kedelai hingga baja yang terkena tarif kebijakan Trump kini sudah membalikkan aliran perdagangan bernilai miliaran dolar AS dan membuat pedagang komoditas fisik harus kembali mengatur arah perdagangannya.

“Kami tidak berpikir bahwa perang dagang ini akan merugikan perekonomian, kecuali jika berlangsung terlalu lama. Hal itu hanya akan sedikit mengubah arus perdagangan yang biasa dihadapi oleh para trader,” ujar Saad Rahim, Kepala Ekonom Trafigura Group.

Trafigura Group tercatat sebagai perusahaan perdagangan logam terbesar ketiga di dunia dan pembeli minyak mentah secara independen.

Optimisme Rahim muncul setelah adanya pernyataan yang menyebutkan bahwa risiko perang dagang AS-China dapat merusak perekonomian global dan permintaan bahan mentah di pasar komoditas dunia.

David Fyfe, Kepala Riset Pasar Global dan analis Gunvor Group mengatakan, sementara ini akan ada pengubahan jalur aliran perdagangan yang membuka kesempatan bagi para pelaku pasar.

“Namun, di balik itu ada kekhawatiran bahwa ketegangan perdagangan tersebut akan terus berlanjut hingga 2019 bahkan 2020,” ungkap trader minyak independen terbesar keempat di dunia itu.

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, bursa berjangka, perang dagang AS vs China
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top