Kinerja Saranacentral Bajatama (BAJA) Tertekan Depresiasi Rupiah

Kinerja emiten produsen baja lapis PT Saranacentral Bajatama Tbk. pada kuartal pertama tahun ini tertekan pelemahan nilai tukar rupiah. Pasalnya, perseroan masih mengimpor sebagian bahan baku dari China, dan memiliki pinjaman luar negeri dalam jumlah signifikan.
Dara Aziliya | 28 Juni 2018 14:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten produsen baja lapis PT Saranacentral Bajatama Tbk. pada kuartal pertama tahun ini tertekan pelemahan nilai tukar rupiah. Pasalnya, perseroan masih mengimpor sebagian bahan baku dari China, dan memiliki pinjaman luar negeri dalam jumlah signifikan.

Berdasarkan data perseroan, dalam 1 tahun terakhir harga bahan baku yang diimpor dari China sudah meningkat 30% karena selain negara tersebut mengurangi produksi, nilai tukar rupiah terhadap dolar menunjukkan tren penurunan.

Direktur Utama Saranacentral Bajatama Handaja Susanto mengungkapkan bahwa sebelum harga baja mengalami kenaikan, emiten dengan sandi BAJA tersebut masih mengimpor 30%—40% dari kebutuhan bahan baku dari Negeri Tembok Raksasa.

“Sekarang 70%—80% bahan baku kami berasal dari Krakatau Steel, hanya 10%—20% yang masih diimpor. Dulunya, harga produk [bahan baku] impor lebih murah 5% tetapi kalau kurs rupiahnya lebih mahal, harganya [bahan baku impor] akan lebih mahal juga,” ungkap Handaja di Jakarta, Kamis (28/6/2018).

Akibat depresiasi rupiah, pada 2017 perseroan membukukan kerugian kurs yang cukup besar yaitu Rp5,1 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, BAJA membukukan penjualan bersih sebesar 24,5% sepanjang 2017 menjadi Rp1,22 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp978,84 miliar. Kontributor penjualan tervesar yaitu BjLS sebesar 49,8%, disusul BjLAS dan Saranacolor masing-masing 45,5% dan 4,2%.

Kerugian tersebut pun kian bertambah pada kuartal I/2018. Selama Januari—Maret 2018, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp321,24 miliar, meningkat 15,85% dibandingan capaian pada periode sama tahun sebelumnya (yoy).

Kendati penjualan naik dua digit, perseroan berlanjut membukukan rugi pada kuartal I/2018 yaitu sebesar Rp5,51 miliar, setelah pada kuartal yang sama pada tahun sebelumnya masih membukukan laba bersih Rp3,03 miliar.

Adapun, pada tahun ini perseroan optimistis kinerja akan membaik, ditopang kebutuhan dari sektor infrastruktur yang kian meningkat. Untuk kembali membukukan laba, BAJA meningkatkan produksi baja lapis yang memiliki margin penjualan lebih besar, sekaligus menempuh efisiensi besar-besaran pada seluruh lini.

Tag : saranacentral bajatama
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top