KINERJA 2017: Laba Lippo Karawaci (LPKR) Turun 30%

Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk. mengumumkan capaian pendapatan konsolidasi sepanjang tahun 2017 senilai Rp11,06 triliun, tumbuh tipis dibandingkan dengan capaian 2016 Rp10,96 triliun.
Emanuel B. Caesario | 17 April 2018 19:50 WIB
Pengunjung mengambil gambar maket kawasan Millenium Village milik PT Lippo Karawaci Tbk di Tangerang, Banten, Sabtu (25/3). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk. mengumumkan capaian pendapatan konsolidasi sepanjang tahun 2017 senilai Rp11,06 triliun, tumbuh tipis dibandingkan dengan capaian 2016 Rp10,96 triliun.

Emiten dengan kode saham LPKR ini menilai, latar berlakang pencapaian yang terbatas tersebut disebabkan karena perekonomian Indonesia yang penuh tantangan seperti melemahnya keyakinan konsumen, yang membuat calon pembeli properti bersikap menunggu untuk saat yang tepat.

Ketut Budi Wijaya, Presiden Direktur LPKR mengatakan, tahun 2017 lalu merupakan tahun yang penuh tantangan bagi sektor properti. Namun, LPKR berhasil mencatat angka pra penjualan yang kuat sebesar Rp8,2 triliun, dimana Rp 7,5 triliun berasal dari Meikarta.

Dengan tuntasnya penjualan aset ke REITS sebesar Rp1,1 triliun, total penjualan properti di tahun 2017 mencapai Rp 9,3 triliun.

Ketut mengatakan, ketika para pengembang properti di Indonesia sangat terpengaruh oleh pelemahan pasar propeni di tahun 2017, LPKR sedikit lebih baik dibanding perusahaan sejenis. Hal ini disebabkan oleh pendapatan recurring yang terus berkembang, yang meredam volatilitas di pasar properti.

Hal ini sekali lagi membuktikan betapa pentingnya keseimbangan sumber pendapatan terutama ketika pasar properti sedang lesu.

Pendapatan recuming LPKR tumbuh sebesar 13% yoy, terutama ditopang oleh pertumbuhan divisi healthcare sebesar 13% yoy.

“Kami berharap penurunan suku bunga kredit properti, kenaikan harga komoditas serta pembangunan infrastruktur dapat menjadi katalis positif bagi pemulihan pasar properti di tahun 2018,” katanya dalam siaran pers, Selasa (17/4/2018).

Total pendapatan di tahun 2017 sebesar Rp11 triliun, relatif datar dibanding dengan pendapatan tahun lalu. Laba kotor sebesar Rp4,7 triliun, turun sebesar 4% yoy. Laba bersih sebesar Rp 614 miliar, turun sebesar 30% yoy.

Pendapatan properti turun sebesar 18% yoy menjadi Rp3,5 triliun, memberikan kontribusi sebesar 31% terhadap total pendapatan. Sementara itu, pendapatan recurring tumbuh sebesar 13% yoy menjadi Rp7,6 triliun memberikan kontribusi sebesar 69% terhadap total pendapatan.

Pendapatan dari divisi urban development turun sebesar 22% yoy menjadi Rp2,3 triliun, terutama disebabkan oleh pelemahan pasar properti di tahun 2017. Pendapatan dari divisi large scale integrated turun sebesar 8% yoy menjadi Rp1,2 triliun pada tahun 2017.

Pendapatan dari divisi healthcare tumbuh sebesar 13% yoy menjadi Rp5,8 triliun. Pendapatan untuk 6 rumah sakit mature naik sebesar 7,9% yoy menjadi Rp 2,6 triliun dari Rp 2,4 triliun. Pendapatan untuk 10 rumah sakit developing naik sebesar 10,6% yoy menjadi Rp2,3 triliun dari Rp 2,1 triliun. Pendapatan 8 rumah sakit baru yang dibuka di 2017 sebesar Rp 131,7 miliar.

Kunjungan pasien rawat jalan tumbuh sebesar 16,7% yoy, sementara admisi rawat inap tumbuh sebesar 7,7% yoy. Laba bersih dari divisi healthcare sebesar Rp93,6 miliar, meningkat sebesar 9% yoy.

Pada akhir 2017, Siloam mengelola 31 rumah sakit, 8 diantaranya mulai beroperasi pada 9 bulan pertama tahun tersebut.

Di tahun yang sama, Siloam Hospitals Denpasar berhasil memperoleh akreditasi Joint Commission International (JCT) mengikuti jejak Siloam Hospitals Lippo Village dan Siloam Hospitals Kebon Jeruk. Siloam Hospitals Lippo Village juga diakreditasi ulang oleh JCI untuk ketiga kalinya.

Siloam terus mendukung BPJS Kesehatan dengan mendaftarkan 5 rumah sakit tambahan untuk melayani pasien BPJS Kesehatan di Asri, Cirebon, Hosana Medica, Palembang dan Sentosa, sehingga jumlah rumah sakit terdaftar menjadi 21.

Pendapatan divisi komersial LPKR sedikit meningkat sebesar 5% yoy menjadi Rp 770 miliar. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan mal sebesar 12% yoy menjadi Rp397 miliar, yang didukung oleh peningkatan kontribusi dari Lippo Mal Buton dan Jambi. Sementara itu, pendapatan hotel datar sebesar Rp373 miliar.

Bisnis asset management yang terdiri dari town management dan portofolio & properti management, tumbuh sehat sebesar 15% y menjadi Rp983 miliar di tahun 2017. Hal ini terutama disebabkan oleh membesarnya total kelolaan aset didalam portofolio REITS.

Tag : lippo karawaci
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top