Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspansi Usaha Indo Tambangraya (ITMG) Alami Hambatan

Bisnis.com, JAKARTA--Rencana ekspansi usaha di sektor ketenagalistrikan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) mengalami hambatan sehingga target porsi pendapatan sekitar 30% dari total pendapatan diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 17 Juli 2017  |  17:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Rencana ekspansi usaha di sektor ketenagalistrikan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) mengalami hambatan sehingga target porsi pendapatan sekitar 30% dari total pendapatan diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Direktur Keuangan ITMG Yulius Gozali mengatakan, pendapatan perseroan ke depan masih akan ditopang oleh lini usaha pertambangan batu bara yang menyumbang sekitar 70%, sisanya sebanyak 30% ditargetkan dari lini bisnis ketenagalistrikan.

Hanya saja, perseroan kini hengkang dari tiga proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang diikuti dan menunggu tender untuk proyek PLTU selanjutnya dari PT PLN (Persero).

Dia mengungkapkan untuk proyek PLTU di Sumatra, perseroan memutuskan untuk menarik diri karena biaya yang dinilai kurang efisien. Sementara itu, dua PLTU di Kalimantan diubah dari PLTU menjadi PLTU Mulut Tambang.

“Oleh karena itu, kami pull-out. Kami sedang menunggu lagi untuk dibuka proyek yang lain,” katanya, Senin (17/7/2017).

Kendati demikian, perseroan menegaskan ketertarikannya untuk masuk ke lini bisnis ketenagalistrikan. Baik pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batu bara, maupun yang termasuk dalam energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Saat ini ITMG melakukan studi kelayakan untuk pembangkit listrik tenaga air di Kalimantan yang diharapkan bisa selesai pada tahun ini. Menurutnya, biaya investasi untuk PLTA mencapai US$3 juta per megawatt.

Gozali mengungkapkan perseroan tidak tertarik untuk mengakuisisi pembangkit listrik existing. Menurutnya, pembangkit listrik yang sudah berjalan justru margin-nya sudah stabil. Oleh karena itu, perseroan mempertanyakan mengapa pembangkit listrik tersebut dijual.

“Kalau akuisisi [pembangkit listrik existing], pasti pertanyaan kami kenapa orang ini menjual. Biasanya, kalau sudah jalan margin sudah stabil. Artinya mending start dari baru,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

diversifikasi usaha
Editor : Achmad Aris

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top