Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA EMITEN : Harga Saham Perdana Dharma Satya Ditetapkan Rp1.200-Rp1.800

BISNIS.COM, JAKARTA — Produsen olahan kelapa sawit, PT Dharma Satya Nusantara menetapkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) berkisar Rp1.200—Rp1.800.
Surya Mahendra Saputra
Surya Mahendra Saputra - Bisnis.com 09 Mei 2013  |  05:49 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA — Produsen olahan kelapa sawit, PT Dharma Satya Nusantara menetapkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) berkisar Rp1.200—Rp1.800.

Rencananya, IPO Dharma Satya bulan depan akan melepas sebanyak-banyaknya 500 juta lembar saham ke publik, atau setara 21,32% dari modal disetor.

Perseroan telah menunjuk sejumlah penjamin emisi terdiri dari BCA Sekuritas, Credit Suisse, Ciptadana Securities, serta Morgan Stanley.

Direktur BCA Sekuritas Imelda Arismunandar mengatakan penetapan valuasi saham IPO ditimbang dari rasio harga saham terhadap laba bersih (price to earning/PE) pada tahun buku 2012 sekitar 8,9x—10,7x, lebih rendah ketimbang PE industri 17,08x.

“Harga itu wajar, tidak kemahalan karena merepresentasikan proyeksi kenaikan laba pada tahun ini dan prospek pasar produk kelapa sawit dalam beberapa tahun ke depan,” ucapnya pada paparan publik, Rabu (8/5/2013).

Direktur Utama Dharma Satya Djojo Boentoro mengungkapkan perolehan dana IPO diharapkan mencapai Rp1 triliun. 50% dana IPO digunakan untuk kegiatan penanaman baru dan pembangunan 2 pabrik di Muara Wahau.

Adapun, 30% untuk pembayaran sebagian pinjaman bank, 10% untuk relokasi pabrik pengolahan kayu, dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja perseroan.

Menurut Djojo, perolehan dana IPO merupakan bagian dari belanja modal yang dibutuhkan tahun ini sekitar US$90 juta. Dharma Satya menganggarkan total biaya ekspansi untuk 3 tahun ke depan senilai US$270 juta.

DSN hingga kini menguasai 4 area perkebunan yang berlokasi di Kalimantan Barat dengan total lahan 56.716 hektare, Kalimantan Timur 91.532 hektare,  Kalimantan Tengah 16.130 hektare, dan Papua 16.726 hektare.

Dari luas konsesi itu, cadangan lahan konsesi Dharma Satya mencapai 181.104 hektare, terdiri dari total area tertanam seluas 61.052 hektare, serta lahan yang belum ditanami 120.053 hektare.

Tahun lalu, perseroan telah memulai agenda penanaman di lahan seluas 4.900 hektare, dengan rincian kebun inti 2.600 hektare dan sisanya kategori plasma. Penanaman baru tahun ini akan dilakukan di lahan seluas 8.000 hektare, terdiri dari 4.200 kebun inti dan 3.800 hektare kebun plasma.

“DSN berkomitmen meningkatkan 35% lahan tertanam hingga 3 tahun ke depan, dan menjaga rata-rata usia tanaman berusia muda 7,9 tahun,” terang Djojo.

Perseroan juga tengah menghidupkan kembali usaha perkayuan dengan memperluas tanaman sengon di hutan tanaman industri (HTI) di Kalimantan. Sekitar 2.000 dari 110.000 hektare HTI kini telah ditanami Sengon.

Sebagian besar produk olahan kayu dikapalkan ke pasar ekspor seperti Jepang, Amerika Utara, Timur Tengah, dan negara-negara Uni Eropa.

Kontribusi produk kayu sekitar 41% dari total pendapatan perseroan Rp3,4 triliun sepanjang tahun lalu.

Analis Trust Securities Reza Priyambada, saat dijumpai Bisnis di paparan publik perseroan, mengungkapkan kisaran harga yang ditetapkan manajemen dan penjamin emisi tergolong ketinggian.

Pelaku pasar, ucapnya, akan membandingkan harga saham Dharma Satya dengan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANTJ).

“Menariknya, harga saham Dharma Satya di atas Austindo. Padahal, Austindo lebih mentereng dengan diversifikasi segmen bisnisnya, dan PE kedua perusahaan tidak jauh berbeda,” katanya, Rabu (8/5/2013). (dot)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jual saham dharma persada saham perdana
Editor : Endot Brilliantono

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top