Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HARGA MINYAK: Brent Merosot ke Angka Terendah 4 Bulan Terakhir

BISNIS.COM, LONDON--Minyak Brent mengalami penurunan harga yang paling signifikan dalam empat bulan terakhir pada Kamis (4/4/2013).
Yoseph Pencawan
Yoseph Pencawan - Bisnis.com 05 April 2013  |  06:04 WIB

BISNIS.COM, LONDON--Minyak Brent mengalami penurunan harga yang paling signifikan dalam empat bulan terakhir pada Kamis (4/4/2013).

Hal itu terjadi akibat langkah-langkah stimulus Jepang dan data klaim pengangguran AS yang buruk sehingga memperlemah sentimen menjelang laporan angka penggajian non pertanian, kata para dealer.

Minyak mentah Brent North Sea di London untuk pengiriman Mei merosot hingga serendah 105,44 dolar AS per barel dalam transaksi sore. Kemudian berdiri di 105,92 dolar AS, atau turun 1,19 dolar AS dari posisi Rabu.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Mei, turun 1,83 dolar AS menjadi 92,62 dolar AS per barel.

Harga minyak turun menyusul langkah-langkah stimulus agresif dari Bank Sentral Jepang (BoJ) dan lompatan tak terduga dalam klaim pengangguran AS.

Serangkaian langkah-langkah pelonggaran moneter baru BoJ mengirim yen jatuh terhadap dolar dan euro. Penguatan greenback membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dolar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lemah, sehingga memukul permintaan minyak dan harga.

Dalam pukulan lain, klaim awal pengangguran AS -- indikator kecepatan PHK -- mencapai 385.000 dalam pekan yang berakhir 30 Maret naik dari 28.000 pada pekan sebelumnya, data resmi menunjukkan.

Kenaikan tak terduga dalam klaim pengangguran terjadi menyusul laporan mengecewakan pada Rabu tentang perekrutan pekerja sektor swasta.

Pada Jumat, Departemen Tenaga Kerja akan merilis laporan bulanan penggajian (payroll) non pertanian dan pengangguran yang dipantau cermat.

"Minyak mentah memperpanjang kerugian hari ini karena dolar menguat di tengah penjualan besar yen, setelah Bank Sentral Jepang (BoJ) mengirimkan kejutan dan pesan kekaguman dalam pertempuran kolosalnya untuk mengakhiri deflasi," kata analis GFT Markets Fawad Razaqzada.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis mempertahankan suku bunga zona euro pada rekor terendah sebesar 0,75 persen.

Razaqzada menambahkan: "Kepala ECB Mario Draghi mengatakan ECB tidak dapat menggantikan kekurangan modal di bank-bank Eropa atau mengkompensasi kurangnya tindakan oleh pemerintah."

"Namun, sejauh ini alasan terbesar di balik penjualan hari ini adalah kekhawatiran tentang meningkatnya pasokan minyak dan melemahnya permintaan." "Rilis data utama AS hari ini -- angka klain pengangguran mingguan, yang menunjukkan kenaikan tak terduga -- tidak membantu menghilangkan rasa takut."

Minyak telah merosot sekitar tiga dolar AS per barel pada Rabu setelah Badan Informasi Energi AS mengungkapkan bahwa cadangan minyak mentah AS naik 2,7 juta barel menjadi 388,6 juta barel.

Itu hampir dua kali lipat ekspektasi pasar untuk kenaikan sebesar 1,5 juta barel.

Naiknya persediaan AS sinyal melemahnya permintaan dan cenderung menempatkan tekanan turun pada harga minyak.

Penutupan sebuah pipa saluran minyak Pegasus ExxonMobil di Arkansas, yang menyalurkan 95.000 barel per hari, juga telah memicu kekhawatiran penumpukan stok di Cushing, Oklahoma, yang merupakan titik pengiriman utama.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak minyak brent harga brent

Sumber : Antara

Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top