Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) meyakini fundamental pasar saham tetap tangguh meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke level 7.771,28 atau terkoreksi 2,27% pada perdagangan sesi I dan sendikit berbalik arah ke level 7.830,49 pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (29/8/2025).
Dalam perdagangan hari ini, indeks sempat menyentuh titik terendah pada level 7.765,6. Sedangkan pembalikan tertinggi terjadi pada level 7.913,86. Saham penopang IHSG seperti BCA terpantau turun 3% perdagangan hari ini. Saham lain seperti BRI anjlok 2,17%. Sedangkan BREN longsor 2,96% dan CUAN turun 3,41%.
Saham yang menahan longsor IHSG seperti DSSA yang menguat 2,11% menjadi Rp99.200, juga ANTM naik 2,01% menjadi Rp3.040, hingga PANI menguat 0,16% menjadi Rp15.200.
Di tengah gejolak pasar saham, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa fundamental pasar modal Indonesia masih solid.
“Kalau dari otoritas bursa, kami melihat fundamental pasar saham kita masih kuat. Kalau ada koreksi teknikal itu wajar,” ujarnya di Jakarta, Jumat (29/8/2025)
Dia juga menyampaikan bahwa BEI tidak berencana melakukan penyesuaian aturan terkait dengan dinamika pasar ini. Menurutnya, seluruh aspek pengawasan dan operasional bursa masih berjalan sesuai dengan jalurnya.
Baca Juga
Terpenting, kata Jeffrey, investor tetap bersikap rasional dalam mengambil keputusan investasi sehingga gejolak jangka pendek tidak menimbulkan kepanikan.
Dalam kesempatan terpisah, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebutkan bahwa pelemahan indeks komposit tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial-politik Indonesia saat ini.
“Pelemahan ini pastinya dipicu oleh kondisi sosial-politik yang kurang kondusif,” ujar Harry saat dihubungi Bisnis.
Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga berpandangan serupa. Menurutnya, pelemahan indeks komposit berkaitan dengan adanya eskalasi aksi demonstrasi khususnya yang terjadi hari ini.
Nafan juga menyampaikan bahwa kondisi politik dan keamanan domestik memiliki pengaruh signifikan terhadap pelemahan IHSG. Oleh karena itu, dia melihat adanya potensi tren penurunan indeks komposit dalam jangka pendek.
Di sisi lain, data historis juga menunjukkan kinerja IHSG pada bulan September selama lima tahun terakhir memang cenderung bearish. Adapun, untuk periode Oktober hingga Desember umumnya mencatatkan tren bullish.
“Kondisi politik dan keamanan domestik berpengaruh besar terhadap pelemahan IHSG hari ini. Bila kondisi IHSG konsisten diperdagangkan di bawah 7.750, maka potensi bearish consolidation phase terbuka lebar,” ucap Nafan kepada Bisnis.
__________________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.