Bisnis.com, JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi bermanuver di rentang 5.900—6.700 sepanjang kuartal II/2025 di tengah bayang-bayang sentimen tarif Trump.
Pada akhir kuartal I/2025, IHSG parkir di level 6.510,620 pada Jumat (27/3/2025). Di level itu, IHSG merosot 8,04% sepanjang tahun berjalan 2025.
Saat ini, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sedang libur bertepatan dengan cuti bersama perayaan Idulfitri. Pasar saham akan kembali dibuka pada 8 April 2025.
Analis BRI Danareksa Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran 5.900–6.700 pada kuartal II/2025.
“Karena sebagian besar skenario pesimistis telah diperhitungkan, meskipun risiko masih ada akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam riset dikutip Kamis (3/4/2025).
Erindra dan Wilastita menuturkan bahwa saat ini IHSG diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) 11,4 kali dengan spread imbal hasil sebesar 154bps dibandingkan dengan yield obligasi 10 tahun, level terlebar sejak Juni 2012.
Di sisi lain, meskipun kondisi pasar mengingatkan pada situasi pada 2015, ketika pertumbuhan ekonomi dan EPS melambat serta defisit fiskal melebar, masih terdapat faktor positif berupa neraca perdagangan Indonesia yang lebih kuat.
Selain itu, kepemilikan asing di pasar saham yang kini sebesar 17% juga masih lebih tinggi dibandingkan level terendah 2020-2021 yang mencapai 12%.
Untuk 2025, BRI Danareksa Sekuritas memangkas target IHSG menjadi 7.350 atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 7.850.
Penyesuaian target IHSG itu dilakukan seiring dengan prospek melambatnya pertumbuhan ekonomi, serta kinerja emiten yang berada di bawah ekspektasi.
Menurut keduanya, minimnya katalis pertumbuhan membuat laba per saham (earnings per share/EPS) diperkirakan melemah pada kuartal II/2025. Akibatnya, estimasi pertumbuhan EPS tahun ini dipangkas dari 6,5% menjadi 4,5%.
“Dengan mempertimbangkan revisi estimasi pertumbuhan EPS dan ekspektasi pertumbuhan yang lebih konservatif, kami menyesuaikan target IHSG akhir 2025 menjadi 7.350,” paparnya.
Dari sisi makro, Head of Research dari NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menyatakan penerapan tarif timbal balik Amerika Serikat sebesar 32% berisiko mengakhiri surplus neraca perdagangan Indonesia selama beberapa tahun terakhir.
Per Februari 2025, Indonesia surplus US$3,12 miliar karena didorong penurunan impor domestik akibat tekanan sosial yang semakin meningkat. Capaian itu adalah surplus selama 58 bulan beruntun sejak Mei 2020. Akan tetapi, lebih rendah dibandingkan dengan surplus Januari 2025 yang mencapai US$3,45 miliar.
“Tarif baru dari Donald Trump dapat mengakhiri surplus ini, terutama karena AS merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia,” ucap Ezaridho.