Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laba Matahari (LPPF) Naik 22,5% Pada 2024, Meski Pendapatan Susut

PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) mencetak kenaikan laba bersih sebesar 22,5% secara tahunan pada 2024 meski kinerja pendapatan susut.
PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) membuka gerai baru di AEON Deltamas, Cikarang, pada Jumat (22/4/2024).
PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) membuka gerai baru di AEON Deltamas, Cikarang, pada Jumat (22/4/2024).

Bisnis.com, JAKARTA — PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 22,5% secara tahunan (year on year/YoY) pada 2024, meski pendapatan merosot.

Matahari Department Store mencetak laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp827,6 miliar pada 2024 meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp675,3 miliar.

Lain hal dengan pendapatan bersih LPPF yang justru turun 2,14% secara tahunan (YoY) menjadi Rp6,39 triliun pada 2024 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,53 triliun.

Pendapatan bersih LPPF paling besar dikontribusi oleh penjualan eceran sebesar Rp3,65 triliun dan penjualan konsinyasi bersih sebesar Rp2,73 triliun. Lalu, pendapatan jasa berkontribusi sebesar Rp10,3 miliar.

Apabila dirinci, penjualan eceran yang berkontribusi paling besar susut sebesar 2,1% secara tahunan. Penjualan konsinyasi bersih juga susut 2,1% secara tahunan dan pendapatan jasa turun 8,2% secara tahunan. 

Adapun beban pokok pendapatan LPPF turun 4,2% secara tahunan menjadi Rp2,13 triliun, laba kotor turun 1% secara tahunan menjadi Rp4,26 triliun.

Sementara itu, total aset LPPF juga susut 15,5% dari Rp5,8 triliun pada 2023 menjadi Rp5,14 triliun pada 2024. Lalu, liabilitas LPPF juga susut 17,6% dari Rp5,8 triliun pada 2023 menjadi Rp4,8 triliun pada 2024, dan ekuitas LPPF justru melesat 983% dari Rp30,7 miliar pada 2023 menjadi Rp325,7 miliar pada 2024.

CEO Matahari Department Store Monish Mansukhani mengatakan, meski belanja konsumen kelas menengah sedang melambat, tetapi LPPF tetap mencatat pencapaian pada 2024.

"Sembari menyempurnakan strategi untuk 2025, kami terus memprioritaskan penguatan fundamental ekonomi perusahaan dan menyempurnakan produk kami guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (7/3/2025).

Dia mengatakan bahwa capaian 2024 seiring dengan efisiensi dalam biaya operasional dan keuangan, membantu mengatasi perlambatan penjualan dan menghasilkan EBITDA sebesar Rp1,4 triliun turun tipis 0,9% daripada tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa sepanjang 2024, Matahari berfokus pada beberapa inisiatif strategis, termasuk pengembangan merek eksklusif untuk menarik konsumen muda dan modern. 

"SUKO terus berkembang dengan jangkauan di 79 gerai, sementara ZES merek eksklusif terbaru, resmi diluncurkan pada kuartal keempat 2024 untuk menyasar konsumen yang sadar fesyen," ujarnya.

Kemudian, dia juga mengungkap bahwa Matahari juga mengoptimalkan portofolio gerainya dengan memangkas 13 gerai yang berkinerja buruk, sehingga menghasilkan peningkatan EBITDA sebesar Rp13 miliar. 

Adapun dari sisi bisnis online, Matahari memperluas ragam produknya dengan menggandeng sejumlah merek konsinyasi, yang berkontribusi sebesar 41% terhadap total bisnis konsinyasi Matahari.

Selanjutnya dalam menatap 2025, dia menyatakan bahwa LPPF tetap berkomitmen menjalankan inisiatif strategis yang adaptif untuk menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu. 

Monish mengatakan bahwa perseroan berencana untuk memperluas koleksi merek eksklusifnya dan mengeksplorasi kategori baru seperti perlengkapan rumah tangga. 

Selain itu, LPPF juga akan memperluas gerai format khusus untuk SUKO dan ZES, merasionalisasi dan mengurangi gerai yang berkinerja buruk, serta merenovasi gerai-gerai kategori A tertentu yang memiliki nilai strategis. 

Kemudian pada saat yang sama, dia mengatakan bahwa perseroan akan terus berfokus pada profitabilitas dengan meninjau kembali biaya sewa dan tenaga kerja, serta biaya produk. 

------------------

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Erta Darwati
Editor : Thomas Mola
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper