Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Komoditas Hari Ini (7/5): Emas, Batu Bara, CPO Kompak Menghijau

Harga komoditas emas menguat pada perdagangan Selasa (7/5/2024). Batu bara dan CPO juga ditutup menguat.
Bongkahan emas seberat 12,5 kilogram yang berada di kilang logam mulia, Swiss. - Bloomberg/Stefan Wermuth
Bongkahan emas seberat 12,5 kilogram yang berada di kilang logam mulia, Swiss. - Bloomberg/Stefan Wermuth

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas terpantau menguat saat investor mencerna sinyal penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS). Batu bara dan CPO juga ditutup menguat.

Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Selasa (7/5/2024), harga emas di pasar spot menguat 0,07% ke level US$2.325,64 per troy ounce pada pukul 06.49 WIB.

Kemudian, harga emas Comex kontrak Juni 2024 juga menguat 0,09% ke level US$2.333,20 per troy ounce pada pukul 06.39 WIB. 

 Harga emas pada Senin (6/5) telah meningkat karena para pedagang menilai sinyal beragam pada perekonomian AS dan menunggu para pembicara Federal Reserve (The Fed) untuk mendapatkan petunjuk mengenai suku bunga. 

Logam mulia diketahui meningkat 1,3% pada Senin (6/5) menyusul penurunan mingguan berturut-turut pertama sejak Februari 2024. Volume perdagangan juga lebih rendah dari rata-rata karena pasar Inggris dan Jepang tutup karena hari libur. 

Harga emas pada tahun ini telah menguat lebih dari 12% meskipun kondisi inflasi meningkat dan ketidakpastian kapan The Fed dapat memangkas suku bunganya. 

Kemudian, emas batangan dalam beberapa pekan terakhir juga menjadi kurang menarik karena tanda-tanda bahwa Timur Tengah mulai menjauh dari potensi perang besar-besaran. 

Batu Bara

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bata kontrak Mei 2024 di ICE Newcastle ditutup menguat 0,10% pada level US$145,30 per metrik ton pada perdagangan Senin (6/5/2024). Kemudian, batu bara kontrak Juli 2024 juga menguat 0,34% ke US$146.10 per metrik ton. 

Badan Pusat Statistik (BPS) menuturkan bahwa harga komoditas unggulan ekspor Indonesia seperti batu bara mengalami penurunan yang terus berlanjut di kuartal I/2024. 

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam paparannya menuturkan bahwa harga batu bara pada kuartal I/2024 naik 11,83% dibanding kuartal IV/2023. Namun, jika secara tahunan, harga batu bara telah menurun -46,90%.

“Tren penurunan harga komoditas yang menjadi unggulan ekspor Indonesia terus berlanjut di kuartal I/2024,” terang Amalia dalam Rilis BPS, Senin (6/4/2024).

Adapun, mengutip Bigmint, harga batu bara Indonesia mungkin akan meningkat dalam waktu dekat karena permintaan dari sektor ketenagalistrikan India meningkat. Persediaan di pelabuhan dan pembangkit listrik India juga mungkin menurun karena meningkatnya permintaan listrik. 

Kemudian, meningkatnya suhu di beberapa wilayah China juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan. 

Harga CPO

Harga komoditas minyak kelapa sawit atau CPO berjangka pada perdagangan Senin (6/5) kontrak Juli 2024 menguat 19 poin ke 3.863 ringgit per ton di Bursa derivatif Malaysia. Kontrak Juni 2024 juga ditutup menguat 26 poin menjadi 3.896 ringgit per ton. 

Mengutip Bernama, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives telah berakhir lebih tinggi pada Senin (6/5). Seorang dealer menuturkan bahwa kenaikan ini mengikuti kenaikan pasar China yang dibuka kembali setelah libur Hari Buruh pada minggu lalu. 

Kepala riset komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani mengatakan bahwa harga kedelai berjangka sebagian besar lebih tinggi di Dalian Commodity Exchange. 

Lanjutnya, ia mengatakan perdagangan berjangka minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) pada jam-jam Asia terlihat lebih tinggi, ditambah dengan melemahnya ringgit terhadap dolar AS yang memberikan dukungan pada pasar berjangka CPO lokal. 

Pedagang minyak sawit David Ng juga menuturkan bahwa harga CPO mengalami kenaikan akibat harga minyak mentah yang lebih tinggi dan perkiraan produksi yang lebih rendah oleh Southern Peninsula Palm Oil Millers Association (SPPOMA), yakni selama periode 1 - 5 Mei 2024 produksi minyak sawit Malaysia menurun 23,93%.

David Ng juga mengatakan bahwa pihaknya melihat dukungan di 3.800 ringgit per metrik ton dan resistensi pada 3.950 per ton. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper