Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Lanjut Melemah ke Rp16.251 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah ke level Rp16.251,5 per dolar AS.
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah ke level Rp16.251,5 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (17/4/2024). Rupiah melemah di tengah penguatan dolar AS.

Mengutip data Bloomberg pukul 09.01 WIB, rupiah dibuka melemah 0,47% ke Rp16.251,5 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,02% ke 106,28.

Bersamaan dengan rupiah, beberapa mata uang kawasan Asia Pasifik dibuka melemah. Mata uang yang dibuka melemah tersebut di antaranya adalah dolar Hong Kong turun 0,01%, peso Filipina turun 0,21%, rupee India melemah 0,11%, dan yuan China melemah 0,02%.

Sementara itu, mata uang lainnya di kawasan Asia dibuka menguat dengan yen Jepang naik 0,03%, dolar Singapura naik 0,10%, won Korea Selatan naik 0,69%, ringgit Malaysia naik 0,06%, dan baht Thailand menguat 0,05%.

Sebelumnya, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah masih akan ditutup melemah pada rentang Rp16.160-Rp16.250 per dolar AS hari ini.

Ibrahim menjelaskan salah satu penyebab penguatan indeks dolar adalah karena menguatnya data ekonomi AS, salah satunya data penjualan ritel yang naik 0,7% dari bulan lalu. 

Di sisi lain, lanjut dia, inflasi AS yang masih cukup tinggi membuat Bank Sentral Amerika Federal Reserve ragu-ragu mengambil langkah untuk menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga. 

Di sisi lain, kata dia, komentar dari pejabat The Fed yang mengatakan kemungkinan besar The Fed tidak akan menurunkan suku bunga di semester II/2024 atau hanya menurunkan 25 bps membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan. 

Dari Timur Tengah, lanjut Ibrahim, Kementerian Perang di Israel memberikan pernyataan di akhir pekan Israel akan melakukan serangan balik ke Iran. Ibrahim memperkirakan hal ini membuat indeks dolar akan menuju 110-112, yang merupakan level tertinggi sepanjang masa yang ditakutkan pasar. 

"Dampaknya apa ke Indonesia? Ini akan membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan sampai US$100 per barrel dan ini akan membuat impor minyak Indonesia membengkak. Indonesia adalah salah satu importir minyak mentah terbesar di Asia," kata Ibrahim, Selasa (16/4/2024). 

Dampak kedua, kata Ibrahim, intervensi BI di pasar DNDF kemungkinan besar tidak akan cukup kuat menahan laju pelemahan rupiah, sehingga di akhir bulan ini BI harus menaikkan suku bunga 25 bps untuk menstabilkan rupiah. 

Akan tetapi, lanjutnya, Indonesia juga akan diuntungkan karena AS memberikan sanksi ke Rusia tidak boleh melakukan ekspor komoditas. Hal ini membuat harga-harga komoditas melonjak tinggi dan ini akan dinikmati Indonesia. 

Peningkatan harga komoditas seperti CPO, batu bara, nikel, dan timah ini akan membuat neraca perdagangan Indonesia cukup baik. Menurut Ibrahim hal ini akan menahan laju penguatan indeks dolar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper