Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Tembus Rp16.181/US$, Analis Sebut BI Bakal Tingkatkan Invervensi

Nilai tukar rupiah terpantau melemah 2,10% dan menyentuh level Rp 16.181 per dolar AS pada pukul 09.44 WIB.
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah melemah menembus level 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan setelah libur Lebaran 2024.

Mengutip data Bloomberg pada Selasa (16/4/2024) diketahui bahwa rupiah kini telah melemah -2,10% terhadap dolar, dan menyentuh level Rp 16.181,500 pada pukul 09.44 WIB.

Analis memandang pelemahan rupiah memberikan tekanan pada Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan intervensi. 

Banyak yang telah terjadi ketika Indonesia merayakan masa Lebaran, sehingga terdapat risiko pergerakan yang besar ketika para pelaku pasar kembali. Contohnya, data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. 

“[Bank Indonesia] kemungkinan besar akan memperlancar pergerakan pasar jika USD/IDR menembus di atas level psikologis 16.000," jelas  ahli strategi makro di DBS Bank Ltd. di Singapura, Wei Liang Chang, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (16/4).

Lanjutnya, ia mengatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah seharusnya lebih merupakan upaya untuk mengejar pelemahan mata uang regional terhadap dolar AS dibandingkan faktor lokal.

Rupiah mengikuti kemerosotan dalam kontrak berjangka luar negeri non-deriverable forward (NDF) kontrak satu bulan yang melemah 1,2% sejak 5 April 2024 menjadi Rp16.101.

Bank Indonesia (BI) juga menghadapi tekanan untuk mendukung rupiah di tengah berlanjutnya penguatan dolar dan arus keluar modal asing. Pada Oktober 2023 lalu, BI juga menaikkan suku bunganya, setelah pelemahan mata uang yang berkepanjangan. 

Beberapa pengamat pasar kemudian berspekulasi bahwa kenaikan suku bunga mungkin akan kembali dibahas pada pertemuan bank sentral mendatang pada 24 April 2024.

“Jika dolar-rupiah menembus angka 16.000 pada saat pertemuan BI, saya mengharapkan respons dari BI di luar intervensi,” jelas kepala strategi mata uang Asia di Royal Bank of Canada di Singapura, Alvin Tan.

Kemudian, Menurut kepala penelitian Indonesia di unit sekuritas Macquarie Group di Jakarta, Ariyanto Jahja, ekuitas Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan di tengah kinerja pasar pada kuartal I/2024 yang beragam. 

Sejak menyentuh rekor tertinggi pada Maret 2024 karena prospek pertumbuhan yang optimis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menurun 2% hingga 5 April 2024. Saham berjangka Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Singapura telah turun 1,6% sejak pasar tutup untuk liburan.

Tambahnya, penurunan tersebut dinilai mungkin berlangsung sebentar saja. Asumsi bahwa tantangan terhadap pemilu telah berakhir dan arah makro yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini dikatakan seharusnya kondusif bagi pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper