Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konflik Iran vs Israel Diprediksi Tekan IHSG dan Rupiah Makin Dalam, Ini Sebabnya

Konflik Iran dan Israel diperkirakan bakal ikut menekan dan membuat IHSG serta rupiah semakin melemah.
Karyawan beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (21/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (21/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA -- Konflik antara Iran dan Israel yang sedang memanas bakal berpengaruh pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Berikut prediksi dampak konflik Iran vs Israel terhadap IHSG dan nilai tukar rupiah.

Konflik itu disebut juga bisa menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah yang sedang melemah semakin dalam lagi. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia sampai dengan 5 April 2024, IHSG terpantau menguat 0,45% di posisi 7.286,88. Sementara itu, rupiah terpantau melemah menembus Rp16.000 per dolar AS saat libur lebaran. 

Ekonom dan Mantan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan terkait dengan IHSG, sebenarnya sudah terguncang oleh tingkat suku bunga tinggi sebelum adanya konflik Iran dan Israel. 

"Jadi sebelumnya setiap kali ada keputusan The Fed yang dianggap tidak sejalan dengan ekspektasi market maka akan terjadi semacam capital outflow. Ketika ada gejolak, banyak pemain saham yang hit and run atau jangka pendek, mereka lari ke safe haven, bisa ke dolar AS atau ke surat berharga seperti US treasury," jelasnya dalam webinar Eisenhower Fellowships Indonesia, Senin (15/4/2024). 

Namun, dengan adanya peningkatan tensi antara Iran dan Israel, maka dolar AS dan US Treasury Bond akan semakin dicari, sehingga itu menyebabkan tekanan baik terhadap IHSG dan rupiah karena orang mencari safe haven. 

Untuk menyelamatkan rupiah agar tak terus melemah semakin dalam, Pemerintah Indonesia menjalankan sejumlah upaya, di antaranya dengan cara melakukan intervensi di pasar agar fluktuasinya tidak terlalu tajam. 

Namun, menurut Bambang, dengan kondisi seperti saat ini, menurutnya kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia juga tidak akan memberikan banyak pengaruh untuk menguatkan rupiah. 

"Tapi dari sejak kapan pun Bank Indonesia tidak dalam posisi untuk mengejar target tertentu karena itu akan costly dari segi pemakaian cadangan devisanya. Jadi, karena memang fenomenanya yang terjadi adalah dolar AS menguat di semua mata uang sebagai akibat The Fed yang menahan tidak memotong dan menurunkan suku bunga sampai kepada rapat federal reserve yang berikutnya," paparnya. 

Bambang melanjutkan, di Indonesia yang perlu diwaspadai selanjutnya terkait dengan konflik di Timur Tengah adalah kemungkinan defisit neraca berjalan yang melebar, sebagai akibat dari surplus neraca perdagangan yang makin tipis. 

"Neraca perdagangan kita yang selalu surplus tapi angkanya semakin lama semakin kecil, jangan-jangan dengan konflik ini kita tidak bisa melanjutkan surplus. Sektor jasa makin berat karena salah satu yang bikin defisit adalah shipping. Dengan melemahnya rupiah, ditambah dengan terganggunya jalur distribusi yang dekat dengan daerah Arab dan Iran, justru current account deficit kita bisa melebar, ini harus dijaga," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper