Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham-saham Pilihan JP Morgan di Tahun Pemilu, AMRT, MAPI hingga BBCA

JP Morgan meyakini beberapa saham mulai dari AMRT hingga BBCA dapat memberikan kinerja yang baik pada tahun pemilu.
Pegawai mengamati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/10/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai mengamati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/10/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga keuangan global JP Morgan memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2024 dapat mencapai level 7.500 pada tahun politik 2024. JP Morgan tercatat memiliki beberapa saham pilihan tahun ini, mulai dari AMRT hingga BBCA. 

Tim Riset JP Morgan yang terdiri dari Henry Wibowo, Rajiv Batra, Arnantto Januri, dan kawan-kawan melihat terdapat beberapa sentimen yang akan mendorong pasar modal Indonesia dalam 12 bulan mendatang. Sentimen-sentimen tersebut seperti pemilihan presiden dan gubernur, potensi rate reversal cycle pada semester II/2024, transformasi neraca transaksi, ekosistem EV dan foreign direct investment (FDI), serta energi hijau.

JP Morgan memperkirakan volatilitas pasar yang lebih tinggi untuk pasar Indonesia pada semester I/2024. Keadaan diperkirakan akan lebih tenang pada semester II/2024 setelah hasil pemilu keluar. 

Tim Riset JP Morgan juga melihat Indonesia menjadi negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, dan didukung oleh kisah kelas menengah yang meningkat dan urbanisasi. Selain itu, 50% pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia didorong oleh konsumsi rumah tangga domestik. 

"Kami percaya Indonesia memasuki kondisi yang baik karena kami memperkirakan PDB per kapita akan melintasi batas US$5.000 pada tahun 2024," tulis Tim Riset JP Morgan, Rabu (10/1/2024). 

JP Morgan mempercayai konsumen Indonesia akan dapat menghabiskan lebih banyak untuk kategori produk konsumen dalam dekade mendatang, seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita. Hal tersebut serupa dengan tren konsumsi yang booming di China dalam dekade terakhir. 

Tim JP Morgan juga mempercayai sektor-sektor terkait konsumen akan menjadi penerima manfaat utama dari tren PDB per kapita yang meningkat, seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), PT Indofoof CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), dan platform e-commerce sebagai proksi untuk belanja online. 

Sementara itu, ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan foreign direct investment (FDI) menurut JP Morgan akan tetap menjadi kunci. Akan tetapi, sektor bank merupakan pilihan utama dibandingkan dengan penambang nikel. 

"Kita memasuki tahun ketiga cerita hilir nikel untuk Indonesia, dengan antusiasme terhadap penambang nikel khususnya jauh lebih rendah akibat kekhawatiran oversupply dan harga nikel yang rendah," tutur JP Morgan. 

Meski demikian, JP Morgan tetap optimistis terhadap ekosistem EV dan narasi hilirisasi karena hal ini akan mendorong masuknya FDI ke Indonesia dan menjadi pendorong utama jangka panjang bagi narasi makro Indonesia. Penambang nikel seperti INCO, ANTM, dan MDKA menurut JP Morgan menjadi penerima manfaat gelombang pertama dari hilirisasi EV dalam lima tahun terakhir.

Walaupun memiliki pandangan positif terhadap prospek sektor nikel, tetapi JP Morgan percaya sektor perbankan menjadi pilihan yang lebih baik dengan tren masuknya dana investasi asing dalam 12 bulan mendatang. 

Menurut JP Morgan, sektor perbankan akan melihat peningkatan pertumbuhan pinjaman yang signifikan dari pembiayaan pabrik pengolahan nikel dan perusahaan otomotif yang memperluas kapasitasnya, seperti Hyundai dan Wuling, dan mungkin lebih banyak lagi.

"Kami percaya empat bank besar akan dapat mempertahankan kinerja luar biasa dibandingkan dengan indeks pada tahun 2024," ujar Tim Riset JP Morgan.

Sebanyak empat bank besar Indonesia yang dimaksud tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

_____________________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper