Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dolar AS Terpantau Stabil, Menuju Kinerja Mingguan Terkuat sejak Juli 2023

Dolar AS menunjukkan kondisi yang stabil dan menuju kinerja mingguan terkuat sejak Juli 2023.
Mata uang dolar di salah satu penukaran uang di Jakarta, Minggu (9/10/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Mata uang dolar di salah satu penukaran uang di Jakarta, Minggu (9/10/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar AS menunjukan kondisi yang stabil dan menuju kinerja mingguan terkuat sejak Juli 2023 di tengah berkurangnya ekspektasi penurunan suku bunga yang tajam, menjelang data gaji Amerika Serikat (AS) yang diawasi ketat pada hari ini.

Data menunjukkan pada Kamis (4/1) bahwa perusahaan-perusahaan swasta di AS mempekerjakan lebih banyak pekerja dari perkiraan pada Desember 2023. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada kekuatan di pasar tenaga kerja yang akan terus menopang perekonomian. 

Hal tersebut membantu dolar menghindari pelemahan terhadap sejumlah mata uang. Mata uang AS terakhir berada di 102,39 pada awal perdagangan Jumat (5/1). Indeks dolar juga naik 1% dalam sepekan, mencatatkan kinerja terkuat sejak pekan yang berakhir pada 23 Juli 2023. 

Rebound dolar akan diuji oleh laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis pada hari ini. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan bahwa 170.000 lapangan kerja tercipta pada Desember 2023, lebih sedikit dari 199.000 lapangan kerja pada November 2023. 

“Kekuatan USD yang kita lihat pada awal tahun 2024 mungkin lebih berkaitan dengan permintaan safe-haven karena pasar ekuitas sedang kesulitan dan volatilitas pasar meningkat,” jelas ahli strategi pendapatan tetap dan mata uang di Harbour Asset Management, Hamish Pepper, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (5/1). 

Dari alat CME FedWatch, para pedagang kemudian menarik kembali taruhan penurunan suku bunga dengan pasar kini memperhitungkan kenaikan 65% pemotongan suku bunga pada Maret 2024. Angka tersebut menurun dibandingkan 86% pada seminggu sebelumnya. 

Kemudian, para pedagang juga memperkirakan pemotongan kurang dari 140 basis poin (bps) pada 2024 dibandingkan 160 bps pada akhir Desember 2023. Beberapa analis juga melihat ekspektasi pasar terlalu agresif. 

Adapun, Pepper berpendapat bahwa dolar kemungkinan akan didukung oleh kenaikan suku bunga AS dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dinilai terbukti terlalu agresif. 

“Meskipun inflasi PCE inti telah turun dengan cepat menjadi sekitar 3%, angka ini bukanlah 2% yang ditargetkan oleh The Fed dan mungkin memerlukan suku bunga kebijakan untuk tetap pada tingkat yang lebih tinggi lebih lama dari yang diperkirakan,” jelasnya.

Untuk diketahui, inflasi yang diukur dengan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi naik 2,6% dalam 12 bulan terakhir hingga November 2023. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper