Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Bisa Naik ke US$100 per Barel Tahun Depan

Harga minyak diprediksi akan berada di kisaran level US$100 per barel pada 2024.
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak diprediksi akan berada di kisaran level US$100 per barel pada 2024. Pergerakan harga minyak akan dipengaruhi oleh keputusan produksi negara-negara penghasil minyak seperti yang tergabung dalam OPEC+. 

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg hari ini pukul 16.11 WIB, dua jenis minyak WTI crude dan Brent Oil kompak bergerak naik. WTI berada di level US$68,68 per barel atau naik 0,10%. Sementara itu, Brent Oil terpantau naik 0,08% dan berada di level US$73,37 per barel. 

Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan harga crude oil tahun depan memiliki resistance di level US$80 hingga US$100 per barel tahun depan dengan support di posisi US$40 hingga US$60 per barel. 

“Trennya tergantung seberapa kuat indikator memberikan dampak ke komoditas,” katanya dalam acara ICDX Outlook di Jakarta, Rabu (13/12/2023). 

Yoga menjelaskan untuk komoditas energi khususnya minyak mentah, fokus utama akan tertuju pada rencana peningkatan produksi AS sebesar 1 juta barel per hari, dan pemangkasan produksi OPEC+ sebesar 2,2 juta barel per hari pada kuartal I/2024. 

Selain itu, tensi geopolitik, embargo terhadap Rusia serta pertumbuhan ekonomi global akan mempengaruhi di sisi permintaan.

Pada pemberitaan Bisnis sebelumnya, setelah produsen utama Arab Saudi mengatakan pembatasan tersebut dapat diperpanjang setelah bulan Maret 2024, diikuti oleh pernyataan serupa dari Rusia, Aljazair, dan Kuwait. 

Muncul juga kekhawatiran mengenai lintasan permintaan. Konsumsi China diperkirakan akan tumbuh sebesar 500.000 barel per hari pada tahun depan, menurut survei Bloomberg, kurang dari sepertiga peningkatan yang terlihat pada tahun 2023. Sementara itu, di AS, banyak ekonom memperkirakan resesi akan dimulai tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper