Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Menguat ke Rp15.621 per Dolar jelang Rilis Data Inflasi AS

Mata uang rupiah ditutup menguat tipis ke posisi Rp15.621 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (12/12/2023), jelang rilis data inflasi AS.
Karyawati menunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (30/8/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawati menunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (30/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah ditutup menguat tipis ke posisi Rp15.621 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (12/12/2023). Sederet mata uang Asia terpantau bervariasi, sedangkan dolar as lesu. 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.00 WIB, mata uang rupiah ditutup menguat 0,01% atau 1,5 poin ke level Rp15.621 per dolar AS. Sementara itu indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau turun 0,17% ke posisi 103,92.  

Mata uang kawasan Asia lainnya bergerak bervariasi pada perdagangan hari ini. Mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS misalnya yen Jepang naik 0,44%, dolar Singapura naik 0,16%, dolar Taiwan menguat 0,10%, won Korea naik 0,21%, peso Filipina naik 0,09%, dan baht Thailand melesat 0,41%.

Sementara itu, mata uang Asia yang lesu terhadap dolar AS misalnya, dolar Hongkong melemah 0,04%, yuan China turun 0,02%, dan ringgit Malaysia turun 0,03%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, indeks dolar turun pada perdagangan hari ini. Namun greenback bertahan di atas level 104 terhadap sejumlah mata uang lainnya, menjelang rilis data inflasi utama AS. 

Menurutnya ketidakpastian atas rencana The Fed untuk menurunkan suku bunga pada 2024 mendorong aliran dana ke dolar AS. 

"Pasar sekarang fokus pada data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS, yang akan dirilis pada Selasa [12/12]. Meskipun angka tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi sedikit menurun pada November, angka tersebut diperkirakan masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%," ujar Ibrahim dalam riset, Selasa, (12/12/2023).

Menyusul data inflasi, The Fed akan memutuskan suku bunga untuk terakhir kalinya tahun ini pada Rabu, (13/12). Dia bilang, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya, namun pelaku pasar akan mencermati sinyal apapun dari bank sentral mengenai jalur suku bunga pada 2024.

Selain itu, kata dia, pasar juga mencermati melambatnya pertumbuhan di China. Fokus pasar kini tertuju pada isyarat ekonomi China pada pekan ini, dengan data produksi industri yang akan dirilis pada Jumat, (15/12/2023).

Dari sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan eceran pada November 2023 meningkat, tecermin dari indeks penjualan riil (IPR) November 2023 sebesar 209,4 atau tumbuh 2,9% secara year on year (yoy). 

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp15.600- Rp15.660," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper