Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Lesu ke Rp15.705, Sinyal Hawkish The Fed jadi Pemberat

Rupiah dibuka melemah ke level Rp15.705 per dolar AS hari ini, Senin (13/11/2023) saat The Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Karyawati menghitung mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawati menghitung mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang rupiah dibuka melemah ke level Rp15.705 per dolar AS pada perdagangan awal pekan, Senin (13/11/2023) saat The Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,07% atau turun 10,5 poin ke level Rp15.705 per dolar AS. sementara itu indeks dolar terpantau melemah 0,02% ke level 105,677 pada perdagangan hari ini. 

Mayoritas mata uang kawasan Asia lainnya terpantau bergerak melemah di hadapan dolar AS bersama rupiah. Yen Jepang turun 0,03%, dolar Hong Kong tergerus 0,02%, won Korea melemah 0,41%, peso Filipina melemah 0,15%, rupee India melemah 0,07%, yuan China turun 0,09% dan ringgit Malaysia melemah 0,33%. 

Sementara itu mata uang yang berhasil menguat hanya bath Thailand sebesar 0,13% dan dolar Singapura naik 0,01%. 

Sebelumnya, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pada hari ini mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.680- Rp15.770. 

Hal itu disebabkan oleh Bank Sentral AS Federal Reserve atau The Fed memberikan isyarat untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, berkaca pada kondisi inflasi yang tinggi. 

"Prospek suku bunga AS yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama menjadi pertanda buruk bagi mata uang Asia, karena kesenjangan antara imbal hasil yang berisiko dan yang berisiko rendah semakin menyempit," ujar Ibrahim dalam riset. 

Selain itu, kekhawatiran atas perlambatan ekonomi China juga mengurangi sentimen terhadap Asia, menyusul serangkaian data yang lemah pada Oktober 2023. Meskipun data tersebut meningkatkan harapan akan langkah-langkah stimulus lebih lanjut dari Beijing. 

Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pemerintah Indonesia perlu menjaga momentum pulihnya permintaan domestik pasca pandemi, di tengah kondisi ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, menurutnya pertumbuhan ekonomi RI tetap kuat pada kuartal III/2023 ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,06% year-on-year (yoy), seiring dengan kenaikan mobilitas yang terus berlanjut, daya beli masyarakat yang stabil, serta keyakinan konsumen yang masih tinggi. 

Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2023 tetap pada kisaran 4,5% hingga 5,3%.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper